Tidak Ada Agama Selain Islam

Pluralisme yang dihembuskan oleh sebagian intelektual Muslim, dengan mengusung semangat bahwa semua agama adalah benar dan memungkinkan pengikutnya untuk memasuki surga sungguh kebablasan. Allah Swt sudah menegaskan dengan sangat jelas dalam firmannya.

ان الدين عند الله الاسلام (Sesungguhnya agama yang diridhoi Allah adalah agama Islam).

Nabi Muhammad diutus oleh Alloh Swt untuk menyempurnakan risalah para Nabi terdahulu. Oleh sebab itu semua umat manusia yang telah mendengar syariat Nabi Muhammad Saw wajib untuk mengikutinya dan masuk ke dalam agama Islam, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi dalam Shahih Muslim.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Artinya: dari abu Hurairoh RA, Rasulullah Saw bersabda,” Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggamanNya, siapapun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar berita tentang aku, lalu ia mati sebelum beriman kepada risalah yang diberikan kepadaku, maka ia akan menjadi penghuni neraka (H.R Muslim No.218)

Hadis di atas menegaskan bahwa siapa saja yang dakwah islamiyyah telah sampai kepadanya namun ia tidak mau menerima Islam sebagai agamanya maka ia akan masuk ke dalam neraka. Yahudi maupun Nashrani sekalipun, jika mereka mengingkari kerasulan Nabi Muhammad Saw maka mereka akan masuk ke dalam neraka. Hadist ini sangat jelas menolak ajaran pluralisme agama yang dalam pengertian semua agama adalah benar. Sebab jika mereka semua benar pastilah Nabi Muhammad Saw tidak akan mengancam mereka dengan ancaman neraka.

Bahkan ketika Umar bin Khottob menunjukkan kitab taurat kepada Nabi, beliau sontak bersabda:

لواصبح موسي حيا فاتبعتمواه وتركتمواني لضللتم

Seandainya Musa masih hidup lalu kalian mengikutinya dan meninggalkan aku, maka kalian pasti tersesat. (HR. Ahmad).

Nabi bersabda demikian karena Islam adalah agama yang komplit dan selalu dinamis hingga akhir zaman tanpa memerlukan tambahan dari agama atau ajaran lain. Sisipan-sisipan ajaran Nashrani atau Yahudi masih sering kita jumpai di majelis-majelis ta’lim dan ceramah-ceramah agama yang disampaikan para ustadz, hal ini dikarenakan kurang dalamnya pengetahuan mereka tentang agama sehingga menganggap bahwa cerita Israiliyyat adalah bagian dari Islam itu sendiri, padahal cerita israiliyyat inilah yang dapat mereduksi kemurnian Islam sehingga muncul praktek-praktek keagamaan yang menyimpang dari tuntunan Islam bahkan mirip dengan ajaran agama lain. Syariat Nabi terdahulu hanya untuk umat terdahulu, sehingga sudah out of date dan tidak berlaku untuk umat sekarang. Sementara itu Islam datang untuk mengganti dan menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya, sehingga sudah sewajarnyalah jika Allah mewajibkan kepada seluruh mukallaf di dunia ini untuk memeluk agama Islam.

Legalitas Islam sebagai agama satu-satunya yang harus dianut oleh umat ini juga ditegaskan dalam firman Allah :

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya : Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.(QS.Ali Imron :85).

Imam Fachruddin Ar Raziy dalam tafsirnya mengatakan, sesungguhnya tidak ada agama selain Islam dan semua agama selain Islam tidak akan diterima disisi Allah. (Tafsir Ar Raziy Juz 4 hal.287).

Jika demikian, masihkan kita menganggap bahwa agama diluar Islam sama nilainya dimata Allah dengan agama Islam?.

Wallahu A’lam

KH AHMAD RIFA’I : Pengasingan Adalah Anugerah Allah

Semalam suntuk aku baca dan hayati satu demi satu kata-kata curahan hati sang guru tercinta, Syaikh Haji Ahmad Ar Rifa’I dalam kalam wasiyatnya yang dikirimkan kepada menantu tercintanya K. Maufuro. Surat yang ditulis tangan langsung oleh beliau itu merupakan tanbih, nasehat dan wejangan kepada seluruh santri beliau yang beliau tinggalkan di jawa sebab saat itu beliau sedang menjalani hukuman pengasingan di Ambon oleh Laknatullah Alaih colonial Belanda.

Surat yang kemudian dikemas menjadi buku saku oleh KH Ahmad Syadzirin Amin tersebut begitu inspiratif. Tidak ada keluh kesah di dalamnya, meskipun beliau diasingkan tanpa proses peradilan dan juga harus berpisah dengan keluarga yang begitu dicintainya. Beliau bahkan berpesan,” anak-anak cucuku dan anak-anak muridku, janganlah diantara kamu ada yang timbul keragu-raguan (was-was ) dan berucap, bahwa aku sudah dibuang ke Ambon dengan sangat menderita, tetapi cintailah dirimu sendiri dengan melihat kerusakan agama Allah dan Rasulnya yang sedang terjadi dipulau jawa.”

 Beberapa kali bahkan beliau menampakkan kesyukurannya atas pengasingan yang menimpa beliau. Beliau merasa bahwa Allah swt telah memperlihatkan janjinya untuk memberikan pahala yang besar kepada beliau, sebab dengan diasingkannya beliau di Ambon, beliau bisa mengarang kitab berbahasa melayu, sehingga cakupan dakwah beliau menjadi luas, bukan hanya untuk orang jawa, tapi bisa sampai seluruh nusantara. Siapapun yang telah dengan sengaja mendengarkan kitab tarjamah beliau, beliau sudah merasa bahwa kitab beliau tersebut manfaat.

Aku tersenyum, begitu tegarnya beliau. Seolah pembuangan yang beliau rasakan adalah tamasya Cuma-Cuma yang diberikan oleh pemerintah kafir Belanda. Beliau tidak pernah menghiraukan apapun yang menimpa pribadi beliau sepanjang beliau masih bisa menyerukan agama Allah. Aku ingin mengecup tangan beliau sebagai ungkapan rasa salut dan ta’dzim akan sikap beliau yang tidak mau tunduk terhadap kedzaliman, kefasikan dan kemunkaran, dan senantiasa mendedikasikan umurnya untuk memasarkan ajaran Islam. Aku jadi ingat salah satu pesan beliau dalam nadzom syarihul iman…sakuwasane agamane Alloh di payokno ( sekuat tenaga Agama Alloh harus dipasarkan ( didakwahkan)).

Aku lalu bertanya dalam hati, apakah aku sudah memasarkan Agama Allah ini sebagaimana yang dicontohkan dan diamanahkan oleh Beliau ?. apa yang sudah aku berikan untuk kemajuan Islam?. Apa yang sudah aku lakukan untuk mendakwahkan ajaran-ajaran beliau yang tertuang dalam puluhan karangannya?.

Aku malu, malu untuk menatap sorot mata beliau yang tajam. Aku tutup rapat mataku. Aku Cuma berjanji dalam hati, sembari berbisik. Amanah dan semangatmu akan aku kobarkan lagi dalam sanubariku kembali esok hari

By. Ahmad Ar Rifa’i