Imam Sufyan Ats Tsauri pernah berkata,” Orang yang berilmu jika ia tidak memiliki usaha maka ia akan menjadi pelindung kedzaliman. Seorang ahli ibadah jika tidak memiliki usaha maka ia akan memakan agamanya. Orang yang bodoh jika tidak memiliki usaha maka ia akan menjadi pelindung orang-orang fasiq.
Ungkapan ini relevan dengan apa yang terjadi di masa sekarang. Dimana banyak orang-orang alim mengekor pada kebijakan penguasa, membuat fatwa yang sesuai dengan selera orang yang membayarnya. Objektivitas sebagai seorang alimpun luntur sebab ia menggantungkan kehidupannya dan keluarganya kepada orang dzalim. konon pada masa pertengahan ada seorang kaisar dari mongol yang bernama Hulaghu khan, yang mencoba untuk mengembalikan kejayaan moyangnya yaitu Jenghis Khan untuk menaklukkan dunia. Maka kaisar Hulaghu yang notabenenya muslim inipun mengumpulkan para pakar fiqih dan diperintahkan untuk membuat fatwa yang isinya adalah melegalkan usahanya menaklukkan dan menyerang negara2 islam lainnya termasuk Baghdad. karena hidup disamping kaisar dan biasa hidup mewah, maka merekapun membuatkan fatwa pesanan tersebut. lalu jadilah Baghdad menjadi lautan darah dan ribuan kaum muslimin dibantai.
Kejadian seperti itu mungkin saja masih dapat dihindari seandainya para ahli fiqih tersebut mau mengatakan tidak dan memiliki usaha sendiri yang memungkinkan dia bisa hidup tanpa harus bersentuhan dengan kedzaliman.
Seorang abid pun jika tanpa usaha maka ia akan menjual agamanya. ia akan mencari dunia dengan kedok agama. menjual ayat2 Alloh demi kenikmatan duniawi. Ia akan menjalankan aktifitas agamanya denagn orientasi dunia. Contoh yang konkret adalah pungutan-pungutan liar di KUA bagi orang yang ingin nikah. Mereka yang menjadi penghulu rata-rata adalah lulusan fakultas Syariah dengan gelar SHI, akan tetapi dalam kenyataannya, mereka hanya akan mau datang apabila diberikan uang administrasi sebesar 500 ribu, padahal menurut UU biaya nikah cuma sebesar 30 ribu.
Ironis memang apabila orang alim dan abid yang mestinya harus mengibarkan panji Islam dengan ikhlas tapi justru mereka mencari makan dengan menggunakan agama.
Ilmu kan mahal harganya kan ? Shohabat ali saja bilang aku rela menjadi budak orang yang mengajari aku walau satu huruf, jadi ayo kita peduli terhadap para ‘Alim ulama’ supaya mereka tidak mendekat pada penguasa dzolim dan tidak lagi menjual agamanya.