Himpitan ekonomi dan kesulitan hidup terutama di kota-kota besar telah mampu menghilangkan akal sehat manusia. Sikap putus asa dan rasa malas namun memiliki mimpi yang tinggi disikapi dengan menempuh jalan irasional yang bertentangan dengan akidah. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh para dukun yang berkedok ustadz untuk mengeruk keuntungan pribadi meskipun harus menjerumuskan orang lain. Praktek perdukunan seakan sudah mendapat legalisasi dari maysrakat, sebab penyesatan akidah secara terang-terangan di media masa ini tidak mendapat reaksi penolakan dari masyarakat Indonesia yang notabenenya mayoritas muslim. Janji-janji muluk para antek-antek iblis ini telah mampu menina bobokan dan menggelincirkan mereka yang lemah dalam pemahaman agama. Lalu bagaimana sebenarnya Islam memandang praktek perdukunan ini ?.
Dukun atau yang dalam bahasa arab dinamakan كاهن memiliki pengertian orang yang mengetahui hal-hal gaib ( Mu’jam Wasith, 2/803). Dalam Syarh Shahih Muslim (5/22) Imam Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan (kahin/’arraf) adalah orang yang mengaku-ngaku mengetahui peristiwa yang akan terjadi, rahasia-rahasia gaib, dan keberadaan benda-benda yang hilang atau dicuri. Maka siapa saja yang kriterianya seperti tadi, apapun lebelnya dan jabatannya, ia termasuk dukun yang dilaknat agama Islam. Islam telah memerangi perdukunan karena ia akan menumpulkan akal pikiran manusia. Jika terjadi sesuatu, selalu dikaitkan dengan sesuatu yang supranatural, walaupun hanya dengan terkaan-terkaan tanpa ada dasarnya. Memang unsur yang utama dalam hal ini adalah percaya dan tidak percaya. Jika kamu ingin masuk perdukunan, hilangkanlah akal sehatmu. Lalu kamu akan menjadi gila tanpa kamu sadari.
Artinya seorang dukun akan selalu mengklaim bahwa dirinya mengetahui hal-hal yang sifatnya ghaib. Padahal Alloh Swt berfirman dalam Al Qur’an :
(dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.
Ayat ini mengindikasikan bahwa hanya Alloh lah yang mengetahui perkara ghaib, serta rasul-rasulNya apabila dikehendaki olehNya. Sebab Nabi Saw sendiri ketika ada seorang jariyah bernyanyi dengan berkata :
عندي نبي بعلم ما في غد
Disisi kami ada Nabi yang mengetahui apa yang terjadi besok. Sontak Nabi bersabda : tinggalkan apa yang kalian ucapkan ini sesungguhnya tidak ada seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi esok ( Ithaf Saddatil Muttaqin, 5/ 120).
Dukun dengan segala informasinya yang bersifat ghaib adalah wakil iblis dan ia telah menyebarkan kebohongan. Ia mendapatkan informasi ghaib tersebut dari Jin yang mencuri dengar berita langit dan menyempaikan kepadanya dengan disertai seratus kebohongan ( Riyadhush sholihin, 630).
Oleh sebab itu apabila kita mendapatkan suatu masalah atau musibah, hendaklah kita mendekatkan diri kita kepada Alloh dengan memperbanyak sholat bukan lari ke dukun. Mendatangi dukun adalah dosa besar dan menyebabkan shalat tidak diterima selama empat puluh hari. Jika membenarkannya, maka Islam telah menganggap hal ini sebagai bentuk kekafiran. Adapun mengenai pelaku perdukunan, banyak ulama telah menghukuminya dengan kafir dan sebagian ulama lagi menghukuminya dengan dosa besar saja. Dalam riwayat lain bahwa mendatangi dukun dan bertanya tentang sesuatu hal menyebabkan taubatnya tidak diterima selama 40 hari,sebagaimana sabda Nabi :
من اتي كاهنا فساءله عن شيء حجبت عنه التوبة اربعين ليلة فان صدقه بما قال كفر
Siapapun yang mendatangi dukun dan menanyakan tentang suatu hal maka dia tidak akan diterima taubatnya selama 40 hari, sedang kalau ia percaya terhadap apa yang diucapkannya maka dia telah kafir ( HR. Thabrani )
Sedemikian dahsyatnya ancaman Rasulullah terhadap praktek perdukunan ini, karena beliau dengan pengetahuan yang diberikan oleh Alloh menyadari bahwa perdukunan dapat merusak tatanan kehidupan, mulai dari tatanan dalam keluarga sampai tatanan kehidupan berbangsa. Sebab orang yang terjerumus dalam perdukunan akan cenderung berfikir mistis dan irasional.
Wallohu a’lam.