PENYEBAB MANDEGNYA RIFAIYYAH

7

Desember 5, 2008 oleh RIFA'I AHMAD


sebuah renungan orang pinggiran.

sebelumnya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada sesepuh dan para kiyai apabila uneg2 ini nanti dianggap terlalu lancang. mungkin ini hanyalah semacam coretan yang mengada-ada namun insya Allah tulus berharap agar Rifaiyah kelak bisa menjadi ORMAS besar seperti NU dan Muhammadiyah, minimal dalam kualitasnya.

menurut kami yang bodoh ini. Rifaiyah tidak maju2 karena banyak Faktor, diantaranya

1. Kurangnya SDM yang berkualitas. menurut pantauan dari kami, masih sedikit dari kader Rifaiyah yang bersekolah tinggi. lebih2 kaum hawanya, mereka masih dikungkung oleh sebuah tradisi yang mengakar kuat bahwa perempuan hanyalah pelengkap saja, yang kerjaannya hanya ( Mohon maaf ) disumur, didapur dan dikasur.

2. Terlalu mengisolasi diri dari segala bentuk kemajuan zaman dan teknologinya. padahal zaman selalu bergerak berbanding lurus dengan teknologi, siapapun yang berusaha melawannya akan tergilas oleh zaman itu sendiri. kami tidak bermaksud membuka lebar-lebar pintu kemajuan dan peradaban, sebab setiap kemajuan teknologi pasti berimbas pada dua hal yaitu positif dan negatif. yang positif selayaknya kita ambil dan manfaatkan, semntara yang negatif kita kubur dalam2.

3. Tidak mau menerima segala bentuk perbedaan. atau lebih tepatnya kurang siap. seperti perbe4daan pendapat, penafsiran, pikiran maupun perbedaan pandangan.

4. Selalu terlambat dalam pengkaderan. kami ingat betul sebuah cerita disaat haulnya K.H Bajuri Kretegan. konon katanya pesantren beliau berhasil mencetak kader2 hebat yang berkualitas tinggi seperti K.H Zaenal Abidin, K.H Rois Yahya, K.H Ali Zuhri alm, K.H Ahmad Syadzirin amin, K.H Ahmad Saud dan masih banyak lagi tokoh yang terlahir dari tanagn dingin beliau. akan tetapi kalau kita berkunjung kepesantren tersebut, kita hanya akan mendapati sisa2 kejayaanya saja. kenapa begitu ??? Jawabnya adalah terlambat pengkaderan. haruskah pengalaman ini harus terulang kembali????

4. Dominasi kaum tua tanpa memberikan peluang pada generasi muda. kalau kita mau belajar kepada Muhammadiyah, organisasi yang sistem administrasinya dianggap paling jempolan, ternyata mereka nbanyak menempatkan orang2 yang kompeten untuk menempati bagian2 vital dalam berorganisasi tanpa sedikitpun memandang usia. bagaimana rifaiyah mau maju kalo yang nempati bagian pendidikannya adalah orang yang tidak tau pendidikan, bagian keuangannya adalah orang yang justru ahli fiqh bukan seorang ekonom.

5. Kurangnya konsolidasi antar pengurus, karena tidak memiliki kantor pusat. bagaimana pengurus bisa bekerja dengan maksimal, kalo ketuanya di Pekalongan, sekretarisnya dikendal dan bendaharanya di Pati ????…akibatnya pengurus pusat hanya bisa bertemu kalo ada kegiatan saja.

6. tidak punya amal usaha. sebuah organisasi akan berjalan dengan maksimal apabila didukung dengan kekuatan dana yang memadai, walaupun teori ini tidak mutlak benar namun setidak2nya mendekati benar he…he..

7. Kurang pedulinya masyarakat Rifaiyah terhadap organisasi Rifaiyah.

sebenarnay masih banyak siih tapi aku sudah keburu capek… mudah2an lain kali bisa disambung. ada yang mau nambahi.

Warning!!!

Tulisan ini bukan bermaksud merendahkan pengurus Rifaiyah dan melupakan kontribusi dan jasa beliau yang begitu besar kepada Rifaiyah, namun hanya sekedar introspeksi diri agar kedepan Rifaiyah akan menjadi lebih baik. tanpa kritik sebuah organisasi tidak akan pernah menjadi maju….begitu kira2 pesan dari Si Mbahku…

Wallohul Musta’an

Iklan

7 thoughts on “PENYEBAB MANDEGNYA RIFAIYYAH

  1. ahkampaesan berkata:

    saya juga sependapat
    selama saya sekolah di SMA yang statusnya Negeri
    banyak orang-orang di kalangan masyarakat saya
    mencemooh dan mencibir
    seakan-akan menganggap bahwa saya adalah
    orang yang telah menzalimi ajaran syaikh rifai
    betapa tidak ?
    di setiap pengajian rutin musola si kiai selalu
    menyindir mengenai kehidupan saya
    padahal niat saya adalah ingin menjadi
    kader atau penerus yang memiliki keahlian dalam
    bidang pertanian (sekarang saya kuliah di IPB)
    bukannya mau pacaran atau kumpul lanang wadon
    ghoiru mahram
    saya selama kuliah juga tetep jaga jarak
    dengan akhwat

  2. saujana berkata:

    Mungkin salah satu yang nyebapin Rifaiyyah mandek neng ndalan bukan karena males jalan, tapi baru bisa jalan pengennya terus lari tanpa lihat stamina. Pengen pengen cepet-cepet kayak NU, MD yang udah maju-maju. Ya akibatnya sekali kesandung malas buat jalan lagi heheee…(guyonan)

    Hehhh… dengan tidak hanya bisa berkeluh kesah en nyalahin yang sudah-sudah, mari kita mulai jalan lagi sedikit-demi sedikit…

  3. debu jalanan berkata:

    Ada sebuah tradisi atau peraturan tidak tertulis, bahwa yang harus menjabat posisi2 penting dalam sebuah ormas harus ” keturunan” penggede, dalam dunia politik juga begitu, budaya indonesia kah? pertanyaannya, harus dimulai darimana membenahi rifaiyyah ini? bukan kapasitas kita untuk melakukan ” riset” tapi kita juga berhak ikut peduli, ibarat penyakit, ini sudak komplikasi+kronis, jadi bingung mau ngasih obat, nasib-nasib……….
    RIFAIYYAH MALANG, RIFAIYYAH TERSAYANG …………………….

  4. TANBIHUN berkata:

    gini aja coy” biarin aja beliau2 ngabisin masanya ampe ”kenyang” (upss..g’ sopan buangetzzz)nha sambil kita nungguin,kita amati celah kekuranganya dimana ato baiknya gimana gt..yar suatu saat bs dbwat pljrn..ya gk??tar juga bagian kita yang “mandegani” ko’..(mksdnya klo masih di sisain he he he) ngono po…???

    • rifaimovic berkata:

      heheheehe…sebenarnya ga bak juga sh ngamat kekurangan orang lain, tapi kalo untuk kita ambil ibroh yaaaa…kenap;a tidak. Sebenarnya ada bebarapa pengurus PP yang sudah dengan segenap kekuatannya memberikan yang terbaik untuk organisasi.akan tetapi apalah arti kekuatan satu dua orang dalam sebuah organisasi sebesar Rifayah. Organisasi itu kolektif, teamwork yang bekerja. kalao satu komponen mandeg maka akan mandeg semua. makanya langkah yang palng din yang harus dilakukan adalah dalam menyususn komposisi pengurus, standart yang dpake adalah kompetensi ( kualitas ) seseorang bukan keturunan. Moga aja hal ni disadar betul oleh para pembesar kita.

  5. debu jalanan berkata:

    Mencari Manfaat

    Sebenarnya sih tergantung kita saja dalam mengambil ibrah dari segala macam hal, kondisi, diskusi. Sebenarnya bukan masalah mutu atau tidak, well educated atau tidak. Ingat waktu kita kecil, kita pasti pernah berantem gara-gara hal sepele, cakar-cakaran, tapi itu tak akan menghilangkan pertemanan, dan juga memang itu harus dilalui, mutu aatu gak mutu. Itu adalah cara berproses yang memang layak untuk dijalani untuk menuju kita lebih dewasa. Kedewasan tidak bisa didapatkan serta merta, tetapi harus melalui proses berliku.

    Dengan berdiskusi kita jadi harus lebih berusaha memahami satu sama lain, saling mengkoreksi, dan mencari benang merah yang baik. Diskusi/perdebatan bukan ditujukan untuk menang kalah. Bukan itu. Mungkin jadi rame atau bahkan keluar kata-kata yang tak didinginkan. Tapi itulah salah satu cara untuk belajar. Mungkin ada yang tersakiti atau menyakiti, nah dari situlah sebenarnya kita harus belajar, bagaimana rasa sakit itu, bagaimana kalo kata-kata keluar tak pada tempatnya. Target menajdi contoh orang banyak itu perlu, tapi terlalu susah, mungkin yang lebih perlu adalah mendapatkan ilmu dan wawasan dari setiap orang. Kita bisa membedakan mana yang baik dan tidak baik.

    Kalo kita yakin sesuatu tak ada manfaatnya, maka pastilah kita tidak akan bisa mendapatkannya. Tapi kalo kita niatkan segala sesuatu untuk mendapatkan manfaat maka bisa kita dapatkan manfaatnya, dari aktivitas seremeh dan paling tidak mutu sekalipun. Allah SWT pun menciptakan segala sesuatu ada manfaatnya dan maksudnya, walaupun bagi kita mungkin malah menyebalkan atau menggangu kayak nyamuk, dll. Kayak umpama kita nongkrong dipinggir jalan sama anak nongkrong dan ngobrol ngalor ngidul, mungkin bagi sebagian orang akan mengganggu dan sia-sia. Tapi sebenarnya kita bisa lebih menambah wawasan kita bagaiaman anak nongkrong itu berpikiran dan mengapa mereka berpikiran seperti itu. Ada selalu manfaatnya selama kita mau mencarinya dari segala aktivitas seremeh dan paling gak mutu sekalipun. Dan intinya berlatih sabar, Sabar tidak bisa cuma teori. Sabar adalah applikatif

    • rifaimovic berkata:

      beberapa waktu lalu saya pernah ketemu dengan pengurus Rifaiyah pusat, saat itu aku tanya. Mau di bawa kemana Rifaiyah ini…?. Beliau dg enteng menjawab, akan dibawa kemana…?. jawaban ini kelihatannya simple dan tepat. namun bagi saya yang mantan Presiden BEM ( he..he..he nyombong,…) pernyataan itu kesannya ngambang en ga jelas. Bagi organisasi yg punya visi misi jelas, program sampe 5 tahun pun dah ada. dan kemana arah organisasi itu perlu ditentukan mulai dari sekarang. Tujuannya adalah agar nantinya tidak terombang-ambing. Masihkah kita ngga bisa ngambil pelajaran dari pendahulu2 kita. yang pernah menjadi jurkan sebuah parpol…? BTW…aku cuma bisa berdoa, kedepan rifaiyyah tambah baik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mau tahu ajaran KH.Ahmad Rifa’i?

Kategori

Top Rating

Info Blog’s

Tamu Kita

Sudah Dikunjungi :

  • 423,185 netter

RSS TANBIHUN.COM

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: