PRAJURIT DAKWAH SEJATI

Tinggalkan komentar

Desember 7, 2008 oleh RIFA'I AHMAD


Matahari baru naik sepenggalan, tatkala lelaki gagah itu meninggalkan rumahnya. Sinar mentari lepas menerpa wajahnya. Raut di mukanya dipenuhi peluh, kelihatan tidak bersemangat, seperti mengisyaratkan bahwa ada tugas

maha berat menggayuti hatinya. Langkahnya yang biasa tegap dan mantap, tampak agak lunglai. Namun ia tetap paksakan mengemas perbekalan, dan kemudian ia naikkan ke pelana untanya.


Oleh M Sulthoni 

Siapa lelaki gagah itu? Ia tak lain adalah Utbah bin Gazwan, seorang sahabat yang tercatat sebagai muhajirin pertama hijrah ke Habsyi, kemudian ke Madinah. Perawakannya tinggi tegap, dengan rona wajah bercahaya. Menarik siapa pun yang memandangnya. Dikenal amat tawadhu. Namun Utbah adalah orang paling dipercaya Nabi saw dalam setiap medan jihad, sebagai ujung tombak perang. Ia adalah penombak dan pemanah ulung yang nyaris perfect dalam menjalankan setiap tugasnya. Oleh karena itu, Utbah selalu ditempatkan sebagai frontliner dalam konfigurasi pasukan perang kaum Muslimin.

Utbah adalah orang ketujuh dari kelompok tujuh perintis dakwah yang berbai’at kepada Rasulullah saw. Ikrar janji setia yang diucapkannya, seperti sebuah monumen abadi yang tertancap kokoh di lubuk hati sanubarinya. Bahwa bai’at adalah siap mengorbankan seluruh apa yang dimiliki dan paling dicintai untuk kemuliaan dakwah.

Bahwa bai’at adalah sikap teguh dalam pendirian, ucapan, tindak-tanduk, dan cita-cita dalam meraih ridha Allah. Bahwa bai’at adalah harus mampu tampil prima sebagai teladan bagi lainnya, baik dalam aspek ibadah, ruhiyah, kebajikan, kebersahajaan, kemurahan hati, kegagahan dalam berperang, pemaaf, pencinta kaum papa, dan sifat-sifat mulia lainnya. Warna bai’at yang kental itulah yang mencoraki hari-hari Utbah hingga akhir hayatnya.

Pribadi bai’at yang teguh. Itulah barangkali julukan yang cocok untuk Utbah. Siapa pun akan hormat dengan keteguhannya itu, tak terkecuali Khalifah Umar bin Khattab. Tatkala pasukan Parsi mengganggu kewibawaan Khilafah Islam, Amirul Mu’minin mengutusnya ke Ubullah, sebuah wilayah di Irak. Di sana pasukan Parsi sudah lama bercokol dan menjajah rakyatnya dengan kejam.

Wasiat Umar ra kepada lelaki gagah itu:

“Berjalanlah Anda bersama anak buah Anda, hingga sampai batas terjauh dari negeri Arab, dan batas terdekat negeri Parsi…! Pergilah dengan restu Allah dan berkah-Nya. Serulah ke Jalan Allah siapa yang mau dan bersedia. Dan siapa yang menolak, hendaklah ia membayar pajak. Dan bagi setiap penentang, maka pedang adalah bagiannya, tanpa pilih bulu. Tabahlah menghadapi musuh serta taqwalah kepada Allah Tuhanmu…!”

Utbah memimpin pasukan yang tak begitu banyak. Padahal yang dihadapi sang Komandan kali ini, adalah bala tentara Parsi terkuat dan berjumlah sangat besar. Namun mengetahui ini, Utbah makin bersemangat. Dengan menyandang panah dan menggenggam tombak, Utbah berseru di tengah-tengah pasukannya; “Allahu Akbar, shodaqo wa’dah. Allah Maha Besar, Ia menepati Janji-Nya!” Sekejap saja setelah itu, panah dan tombak Komandan Perkasa Islam itu melesat cepat. Luar biasa! Setiap bidikan panah maupun lemparan tombaknya, selalu tepat sasaran. Musuh porak poranda, dan Ubullah terbebaskan dari kaum Majusi, kembali ke pangkuan Islam. Di sinilah Utbah mendirikan Kota Basrah.

Prestasi yang diraih Utbah dalam setiap medan Jihad baik tatkala bersama Rasul dan setelah wafatnya beliau saw, nyaris tak terhitung. Namun Utbah tetap menjadi pribadi yang rendah hati, dan terkenal zuhud. Tatkala Khalifah Umar mengamanahkannya memimpin Uballah (Basrah), Utbah seperti uring-uringan. Berat rasanya untuk menolak permintaan Khalifah yang sebetulnya bertolak belakang dengan keinginan hatinya. Ia terpaksa menerima jabatan itu.

Gaya super Zuhudnya dalam memimpin Uballah, tak urung mendapat reaksi keras sejumlah bawahannya. Orang sekitarnya menginginkan Utbah hidup ”biasa-biasa” saja sebagai pejabat layaknya. Mereka tidak menginginkan atasannya bersikap ”ekstrim”. ”Kalau begitu, besok lusa akan ada pemimpin baru yang akan menggantikanku, memimpin kalian,” tegas Utbah tatkala melihat keberatan bawahannya dengan gaya kepemimpinannya.

Utbah segera menghadap Khalifah Umar, mengajukan pengunduran dirinya dari Basrah. Umar terkejut mendengar keinginan Utbah, seraya berkata; ”Apakah kalian akan menaruh amanat di atas pundakku…? Kemudian kalian tinggalkan aku sendirian memikulnya? Tidak, demi Allah tidak kuizinkan untuk selama-lamanya permohonan pengunduran dirimu! Kau adalah orang paling kupercaya untuk memimpin Basrah, pergilah kembali ke sana!”

Jawaban Khalifah seperti palu godam yang menghantam dada Utbah. Jabatan itu bukan membuatnya lega, tapi justru menyesakkan dadanya. Ia terpaksa menerima jabatan itu, demi keta’atannya kepada Khilafah. Ketika ia naik kendaraan yang akan membawanya kembali ke Basrah, sang Komandan Perkasa itu menghadap kiblat. Ia menengadah ke langit dan mengangkat kedua tangannya, ia memohon kepada Allah ’Azza wa Jalla, agar tidak dikembalikan ke Basrah. Ia berdoa agar Allah tidak menjadikannya pemimpin pemerintahan untuk selama-lamanya.

Allah mengabulkan doanya. Dalam perjalanan ke Basrah, Utbah menghadap ke haribaan Allah. Prajurit dakwah sejati itu wafat sebelum mencapai Basrah, dengan tenang.

http://www.hidayatullah.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mau tahu ajaran KH.Ahmad Rifa’i?

Kategori

Top Rating

Info Blog’s

Tamu Kita

Sudah Dikunjungi :

  • 417,537 netter

RSS TANBIHUN.COM

  • May Day 2015 Buruh Wacanakan Pembentukan Partai Mei 1, 2015
    Tanbihun.com– Pengusaha dan Buruh adalah dua sisi keping mata uang yang tak mungkin dipisahkan. Buruh butuh pengusaha dan pengusaha butuh buruh. Tapi dalam perjalanan waktu sering buruh tidak setara dan dianggap tidak setara dengan pengusaha. Sering pengusaha terlalu kuat menjadikan buruh hanya sekedar sapi perah. Untuk itulah pemerintah hadir agar pengusaha […]
  • Mary Jane Ditunda Eksekusinya, Bagaimana Penundaan Hukuman Ini Menurut Islam? Mei 1, 2015
    Tanbihun.com– “Eksekusi Mary Jane ditunda” ujar Kapuspenkum Kejagung Tony Spontana saat dihubungi, Rabu (29/4/2015). Keputusan ini diambil setelah Presiden Filipina menelpon Presiden Jokowi, bahwa perekrut Mary Jane telah menyerahkan diri dan membuat pengakuan bahwa dialah yang mengirim Mary Jane untuk membawa Narkoba tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. B […]
  • Keistimewaan Senior Atas Yunior April 26, 2015
    “Qod Yuujadu fil Mafdhuul Maa Laa Yuujadu Fil Faadhil” (Kadang ditemukan keistimewaan bagi yunior yang tidak ada bagi senior) Tanbihun.com– Kaidah ini yg digunakan menjawab ulama ketika ditanya: mengapa Isa dan Maryam tidak tersentuh syetan dan tidak menangis ketika lahir??? Yang difirmankan al Quran u’iidzuhaa bika wa dzurriyyatahaa minasy syaithoonir rojii […]
%d blogger menyukai ini: