TAUBAT NASHUHA

Tinggalkan komentar

Desember 16, 2008 oleh RIFA'I AHMAD


Allah SWT berfirman yang artinya:

135. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri[229], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui.

136. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.

Allah dengan tegas menyatakan dalam ayat diatas bahwa salah satu cirri orang yang bertaqwa kepada Allah bukanlah orang yang tidak pernah berbuat dosa dan tidak punya salah, akan tetapi, orang yang bertaqwa yaitu mereka yang apabila melakukan kesalahan, mereka kemudian mengingat Allah serta bertaubat atas segala kesalahan yang dilakukannya. Mengingat manusia adalah tempat salah dan lupa maka Allah dengan sifat Rahman dan RahimNya senantiasa membuka pintu taubat dan ampunanNya sampai kelak matahari terbit dari arah barat saat dimana kiamat kubra akan segera terjadi.

https://rifaimovic.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif

Nabi Muhammad SAW menjelaskan akan hal itu dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim yang artinya: “ Sesungguhnya Allah taala membentangkan tanganNya pada waktu malam untuk menerima taubat orang yang berdosa pada waktu siang, dan Ia membentangkan tanganNya pada waktu siang untuk menerima taubat orang yang berdosa pada waktu malam, sehingga matahari terbit dari arah barat ( sampai kiamat ).” ( H.R. Muslim )

Secara etimologi Taubat berasal dari kata –taaba-yatuubu-tauban- yang artinya menyesal, atau taubatan yang artinya kembali.Taubat menurut terminologi syariat Islam adalah menyesali perbuatan dosa atau kesalahan yang telah diperbuat dengan menghentikan perbuatan dosa dan kembali kepada kebenaran seperti yang sudah digariskan oleh Allah SWT. Dengan demikian taubat itu berarti melepaskan diri dari keadaan yang dibenci dan dikutuk Allah untuk menuju pada kebenaran yang dicintai dan diridhoi Allah SWT.

Taubat hukumnya wajib ain atas orang-orang yang melakukan dosa. Hal ini dapat dilihat dalam surat An Nur ayat 31, surat Hud ayat 3, At Tahrim ayat 8.

Taubat selalu berkaitan dengan perbuatan dosa, dan dosa terjadi karena dua hal, yaitu mengerjakan larangan Allah dan meninggalkan laranganNya.

Ditinjau dari keterkaitanya, dosa dibagi atas:

  1. dosa manusia dengan Allah ( haqqulloh), seperti meninggalkan sholat lima waktu, tidak mengerjakan puasa Ramadhan, berlaku syirik dan melekukan pelanggaran-pelanggaran yang bersifat individu.
  2. Dosa manusia terhadap sesamanya ( haqqul adamiy), seperti menghilangkan nyawa seseorang, ghibah, mencuri dan pelanggaran-pelanggaran yang bersifat umum.

Ditinjau dari bobot pelanggarannya, dosa dibagi atas dosa kecil dan dosa besar. Imam Dzahabi dalam kitabnya Al Kabair menjelaskan ada 70 macam dosa besar yang berpotensi mendatangkan murka Allah apabila sipelaku tidak segera bertaubat kepadaNya. Dan dari 70 macam dosa besar itu ada dosa yang disebut dengan dosa yang paling besar yaitu sebagaimana yang disabdakan Nabi Muhammad SAW:” Maukah engkau saya beritahukan dosa yang paling besar?” Para sahabat menjawab:” Ya, Rasulullah”Nabi bersabda: “ Menyekutukan Allah, Durhaka kepada orang tua, Nabi bertelekan lalu duduk dan berkata:” dan perkataan bohong dan saksi palsu.” ( HR. Bukhori dan Muslim )

Oleh sebab itu agar Allah mengampuni segala dosa yang telah dilakukannya maka Allah memerintahkan kepada hambanya yang berdosa agar segera bertaubat kepada Allah dan tidak pernah berputus asa mengharap rahmatNya. Namun taubat seorang hamba hanya akan diterima apabila memenuhi rukun-rukun taubat yang meliputi:

1. Menyesali segala perbuatan dosa yang pernah dilakukannya.

2. Berhenti secara total dari segala bentuk maksiat yang akan ditaubati.

3. Tidak berniat mengulangi kembali perbuatan dosa tersebut.

Rukun diatas adalah rukun taubat yang berkaitan dengan haqqulloh, sedangkan apabila taubat yang hendak dilakukan itu berkaitan dengan haqqul adamiy maka ditambah satu rukun lagi yaitu meminta ridho/ maaf kepada orang yang bersangkutan. Demikian tegas Syaikh Ahmad Ar Rifa’i dalam Kitab Tahyirah Mukhtashornya..

Oleh karena kita sebagai manusia tidak pernah lepas dari kesalahan dan dosa maka sudah seharusnyalah apabila kita setiap saat dan waktu bertaubat kepada Allah, dengan memperbanyak membaca istighfar kepadaNya. Mudah-mudahan Allah berkenan menrima taubat kita serta mencurahkan ampunanNya kepada kita semua beserta kaum muslimin dimanapun mereka berada. Amiin. Wallahu A’lam bishshowwaab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mau tahu ajaran KH.Ahmad Rifa’i?

Kategori

Top Rating

Info Blog’s

Tamu Kita

Sudah Dikunjungi :

  • 423,185 netter

RSS TANBIHUN.COM

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: