MENYEMIR RAMBUT

Tinggalkan komentar

Januari 5, 2009 oleh RIFA'I AHMAD


Praktek mengecat atau mewarnai rambut sudah dikenal sejak masa Rasulullah saw. Mewarnai rambut pada saat itu bertujuan agar tidak menyerupai orang-orang Yahudi dan Nashrani yang membiarkan rambutnya memutih tanpa mewarnainya. Saat itu rambut yang diwarnai umumnya telah memutih dengan berbagai pilihan warna seperti kunin g atau merah. Namun tidak semua warna diperbolehkan oleh Rasulullah saw, Beliau mealarang penggunaan warna hitam.

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan, Abu Quhafah, ayahanda Abu Bakr As Shidik, adalah sahabat Rasulullah Saw yang rambut dan jenggotnya telah memutih. Melihat hal ini beliau bersabda,” Ubahlah ini ( rambut dan jenggot ) dengan sesuatu, tapi jauhilah warna hitam.”

Oleh para ulama, Hadits di atas dijadikan dalil bahwa mewarnai rambut yang telah beruban dengan warna hitam hukumnya haram. Keharaman itu lebih karena unsur khida’ (penipuan) umur, karena rambut merupakan pertanda umur seseorang. Secara umum rambut yang telah memutih menandakan pemiliknya sudah tua. Sebaliknya jika warnanya hitam. Ketika seseorang mengecat rambutnya yang telah beruban dengan warna itam, tentu orang lain akan menyangka dia masih muda, padahal sebaliknya.

Namun sebagian ulama memperbolehkan mewarnai rambut dengan warna hitam untuk alasan-alasan tertentu yang bernilai maslahah, seperti untuk pasukan perang dan pasangan suami istri. Ini diperbolehkan karena tidak ada unsur penipuan, Namun lebih sebagai siasat perang. Mewarnai rambut dengan warna hitam lebih menggetarkan musuh, sebab mereka mengira bahwa lawannya adalah para pemuda. Sedangkan untuk pasangan suami istri adalah dalam rangka menjaga keharmonisan rumah tangga. Pendapat ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majjah, ” Sesungguhnya warna yang paling bagus untuk mewarnai rambut adalah warna hitam, karena itu lebih menyenangkan istri-istri kalian dan menggetarkan pasukan musuh.”

Sekilas ada kontradiksi antara hadits yang diriwayatka oleh Imam Muslim dan Ibnu Majjah di atas, namun sesungguhnya kontradiksi itu tidak ada, karena masing-masing memiliki konteks yang berbeda. Dan hukum di atas, antara yang memperbolehkan dan melarang mewarnai rambut dengan warna hitam lebih karena adanya illah (alasan penetapan hukum ). Dalam hal ini berlaku kaidah fiqh,” Al Hukmu yadurru maa ilaah wujuudan au aadaman ( Hukum berlaku tergantung pada ada atau tidak adanya illah ). Jadi mengecat rambut dengan warna hitam terlarang jika ada unsur khida’ ( Penipuan ) dan Zur ( Pembohongan ), dan diperbolehkan kalau alasan tersebut tidak ada dan karena alasan maslahah. (Disarikan dari Buku Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. KH Ali Mustafa Yaqub, MA )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mau tahu ajaran KH.Ahmad Rifa’i?

Kategori

Top Rating

Info Blog’s

Tamu Kita

Sudah Dikunjungi :

  • 423,185 netter

RSS TANBIHUN.COM

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: