Konsep tasawwuf dan ma’rifat KH Ahmad Rifa’i

Tinggalkan komentar

Januari 14, 2009 oleh RIFA'I AHMAD


Tasawuf
Tentang tasawuf Ahmad Rifa’i menyatakan bahwa ilmu tasawuf adalah ilmu yang membahas tentang akhlak manusia yang terpuji dan yang tercela untuk memperoleh keridlaan Allah. Ahmad Rifa’i menuturkan sebagian bait-baitnya dalam kitab Ri’ayat al Himmat Thaat: ”Sesungguhnya ilmu tasawuf itu adalah mengetahui sifat-sifat mahmudah (terpuji) dan mazmumah (tercela) yang ada dalam hati untuk menanamkan keikhlasan kepada Allah”. (Ri’ayatal Himmat: 1/7).
Tujuan ilmu tasawuf adalah mensucikan hati dan memurnikannya untuk bisa menghadap kepada Allah. Ahmad Rifa’i menyatakan dalam kitab Ri’ayatul Himmat :
“Adapun ilmu tasawuf tersebut adalah perkara yang menyucikan amalan hati untuk menghadap Allah yang maha Pengasih, Maha Agung dan selain Allah adalah batil dan mungkar”. (Ri’ayatal Himmat: 1/8)
Kuatnya mazhab Ahlusunah menjadikan pembahasan Ahmad Rifa’i tentang tasawuf tidak ada bedanya dengan ajaran syara’. Syariat dan tasawuf adalah dua ilmu yang mengikat satu sama. lainnya. Syariat adalah sisi luar iman dan tasawuf adalah sisi batin dari iman.

>Sifat-Sitat Terpuji dan Tercela.
Sifat-sifat yang mulia dan terpuji yaitu Zuhud, Qana’at Shabar, Tawakal, Mujahadah, Ridla, Syukur dan Ikhlas.
Ahmad Rifa’i RA. menyatakan dalam kitabnya Asnal Maqashid:
“Di antara sifat-sifat terpuji menurut syara’ itu ada delapan yaitu zuhud, qanaah, shabar, tawakal, mujahadah, ridla, syukur, dan Ikhlas, yang semuanya mengandung makna khauf (takut), mahabbah (rasa cinta), dan ma’rifat (perenungan kepada Allah” (Asnal Miqashad: 1/407).
Akhlak yang termasuk sifat tercela adalah Hubbuddunya, Thama ’ltiba’il Hawa, ‘Ujub, Riya, Takabur, Hasud dan Sum’ah. Nadzam berikut ini menjelaskan tentang sifat tercela:
“Keterangan sifat-sifat yang merusak hati menurut syara’ yaitu 8 (delapan) perkara yang akan diterangkan, hub-buddunya, thama’, ittiba-ilhawa, ujub, riya’, takabur, hasud dan sum’ah. maka hati akan mengetahuinya
nanti, insya Allah berkat pertolongan Allah dan barokah Nabi Muhammad Saw. (Asnal Miqashad: II/408).

>Ma’rifat
Ma’rifat menurut pemikiran Ahmad Rifa’i yaitu berfikir akan kekuasaan Allah atau suasana hati yang menggambarkan menuju kedekatan hamba dengan Tuhannya. Ma’rifat menurut makna dhahirnya adalah seseorang menunaikan kewajiban-kewajiban agama yang sesuai dengan syara’ serta keikhlasan hati karena Allah. Orang yang Ma’rifat ketika dipuji oleh orang mukmin karena kebaikannya, maka bertambah imannya dan bersyukur kepada Allah.

> Mendekatkan Diri kepada Allah dan Melihat Allah
Orang mukmin sejati wajib memberikan apa yang dia mampu untuk jalan mendekatkan dirinya kepada Allah. Barang siapa yang berjalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka dia wajib merambah jalan ma’rifat.

Orang yang zuhud dianggap dekat kepada Allah ketika perbuatannya menjadi sangat baik dan hatinya tidak henti-hentinya berfikir tentang sifat Allah yang menjadikan rasa takut sebagai cambuk untuk tingkahnya dan rasa cinta sebagai kendali dalam keimanannya, sebagai petunjuk kepada Allah dalam mencari keridlaanNya.
Menurut Syeikh Rifa’y bagaimana pun juga seorang hamba sampai kepada derajat tertinggi ma’rifat dan mende-katkan diri kepada Allah tidak akan mungkin dia melihat Dzatnya Allah.
Hamba yang melihat Allah di dunia ini hanyalah satu-satunya yaitu Nabi Muhammad Saw. Orang selain Muharnmad tidak bisa melihat dengan penglihatan mata kepala dan tidak akan dapat melihat kecuali bagi golongan dari para nabi dan rasul yang mempunyai sifat-sifat
istimewa.

>Waliyullah Azza wa Jalla
Kekasih Allah (waliyullah) adalah orang yang menuruti perintah-perintah dan meninggalkan larangan larangan yang telah ditetapkan Allah dan utusan-Nya kemudian segera bertaubat ketika berbuat dosa.

Para wali mempunyai tiga tingkatan ialah: Wali awam, Wali khusus dan Wali sangat khusus. Yang pertama, adalah orang mukmin yang jujur dalam keimanannya dan fasiq dalam perbuatannya dan akan masuk surga setelah disiksa (karena dosanya). Kedua, adalah orang, mukmin adil yang menampakkan keadilannya dalam melanggengkan ibadah yang benar, meninggalkan dosa-dosa besar dan tidak melakukan dosa kecil serta melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Adapun tingkatan yang ketiga adalah manusia sempurna, yakni orang yang adil dan berpengetahuan yang menuruti perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangannya dengan segala macam bentuk dan kesulitanya. Dialah yang mampu meninggalkan dosa-dosa besar dan dosa kecil, baik lahir maupun batin. Tidak disertai cinta kepada kenikmatan dunia, tetapi dia benar-benar berusaha dalam jalan ma’rifat kepada Allah SWT. Yaitu memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan yang demikian itu adalah termasuk orang yang menghidupkan ilmunya di tengah-tengah umat. Dia selalu bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya dan bersyukur atas segala karunia-Nya.
Tingkatan yang terendah atau yang lemah dari para waliyullah adalah mereka menyingkir sekiranya karena tidak ada kekuatan untuk dakwah agama dan mengajarkan ilmu-ilmunya. Wali seperti ini tidak tergolong berpengetahuan (luas) tetapi adil dalam menuruti perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Dan karena kelemahannya dia dianggap sebagai wali yang dimaafkan.www.sufinews.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mau tahu ajaran KH.Ahmad Rifa’i?

Kategori

Top Rating

Info Blog’s

Tamu Kita

Sudah Dikunjungi :

  • 423,185 netter

RSS TANBIHUN.COM

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: