Wahai Pemimpin Arab Dosa Apa Yang Dilakukan Warga Palestina

Tinggalkan komentar

Januari 17, 2009 oleh RIFA'I AHMAD


Dosa” yang dilakukan oleh warga Palestina di Gaza ialah karena mereka dalam pemilu parlemen yang digelar secara demokratis memberikan suaranya kepada Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas).
Jalur Gaza dan satu setengah juta warganya lebih dari tiga pekan mengalami kehidupan paling buruk akibat meningkatnya aksi blokade Rezim Zionis Israel terhadap kawasan ini. Di sisi lain negara-negara Arab malah bungkam melihat aksi biadab tersebut. Malah sejumlah pemimpin Arab telah berkhianat dan melakukan sejumlah pertemuan baik rahasia maupun terang-terangan dengan harapan hubungan mereka dengan rezim penjajah ini normal kembali.

Israel sejak awal 2007 hingga kini tetap memblokade Jalur Gaza. Sudah tiga pekan rezim ini meningkatkan blokadenya di kawasan ini dengan melarang pengiriman bahan bakar, makanan serta obat-obatan ke Gaza. Aksi kejahatan Israel ini yang dinilai oleh seluruh aktivis hak asasi manusia sebagai pembantaian etnis terbesar di abad 21 terus berlanjut. Di sisi lain masyarakat internasional khususnya negara Arab tetap bungkam melihat pembantaian tersebut.

“Dosa” yang dilakukan oleh warga Palestina di Gaza ialah karena mereka dalam pemilu parlemen yang digelar secara demokratis memberikan suaranya kepada Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas). Mereka menilai Hamas adalah solusi lain untuk menghadapi rezim Israel sebagai ganti dari jalur damai yang ditempuh oleh Mahmoud Abbas dan kelompoknya. Hal inilah yang mendorong terbentuknya pemerintahan pilihan rakyat Hamas dan menjadi batu sandungan terbesar bagi program perdamaian dengan Israel yang diupayakan Abbas, kroni dan pendukungnya semisal Arab Saudi.

Satu setengah juta warga Gaza mendapat hukuman massal dari Israel karena mereka mendukung proses demokrasi dengan mendukung Hamas dan melakukan perlawanan terhadap kejahatan Tel Aviv. Hal ini dilakukan rezim Zionis dengan harapan warga Gaza menyesal atas pilihan mereka dan beralih mendukung program perdamaian dengan Israel yang dilakukan pemerintah Otorita Palestia dan pendukungnya dari negara Arab. Namun ternyata warga Gaza tidak mundur setapak pun meski mereka mendapat tekanan berat dari Israel.

Dalam berbagai berita dari pertemuan terbaru antara Pemimpin Arab Saudi, Raja Abdullah bin Abdul Aziz dan Presiden Mesir, Hosni Mubarak di Jeddah disebutkan, kedua pihak hanya sekedar membahas transformasi Palestina. Meski sejumlah pemimpin Arab bungkam dan berkhianat dalam hal ini, namun warga Gaza tidak pernah terlupakan. khususnya Jalur Gaza. Tindakan-tindakan kejam dan jahat musuh (Israel) di Jalur Gaza – yang jarang ditemukan semacamnya dalam sejarah kekejaman manusia – adalah tanda dari begitu lemahnya mereka dalam menundukkan kehendak kuat kaum lelaki, kaum perempuan, anak-anak muda dan anak-anak belia yang tetap gigih menghadapi rejim militer Israel dan pelindungnya; yakni adi kuasa Amerika, dan mereka mencampakkan tuntutan negara-negara ini supaya mereka tidak lagi memihak pemerintahan Hamas. Salam sejahtera Allah atas bangsa pejuang dan besar itu!

Pihak pemenang terakhir dalam konfrontasi antara kebenaran dan kebatilan ini tidak lain hanyalah kebenaran. Dan karena inilah bangsa Palestina yang tertindas dan gigih yang pada akhirnya akan mengalahkan musuh,

وَكَانَ اللَّهُ قَوِيّاً عَزِيزًا

“Dan sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”

Pada hari-hari ini pun, selain kegagalan dalam menumpas perlawanan rakyat Palestina, sebuah kegagalan besar telah merusak kewibawaan pemerintahan Amerika dan lebih besar lagi bagi negara-negara Eropa; kegagalan yang tak dapat dibayar kerugiannya dalam waktu sesingkat ini, yaitu dengan bohong mengaku diri dalam kancah politik sebagai pejuang kebebasan, demokrasi dan slogan-slogan Hak Asasi Manusia. Rejim terhina Zionis Israel lebih legam wajahnya dari sebelumnya, dan ada pula sebagian dari negara-negara Arab yang, dalam ujian besar ini, menjadi pecundang yang melengkapi keterhinaan mereka itu.

Mahasiswa Iran dalam dua aksi demonstrasi terpisah mereka di depan Kedutaan Besar Arab Saudi dan Swiss di Tehran telah menyuarakan protes mereka terhadap kejahatan Rezim Zionis Israel di Jalur Gaza. Mereka juga mengecam aksi bungkam dan pengkhianatan yang dilakukan sejumlah pemimpin Arab terhadap aksi brutal rezim Israel di Palestina.

Namun pertanyaan besar di sini adalah mengapa sejumlah negara Arab khususnya Mesir dan Arab Saudi memilih diam melihat kejahatan Israel terhadap bangsa Palestina. Bahkan setelah 60 tahun kejahatan Israel berlangsung, mereka tidak melakukan perlawanan apapun tapi malah menunjukkan sikap lemah dengan mengajukan program perdamaian Arab kepada Israel. Lebih parah lagi, mereka menggelar dialog dalam rangka menormalisasi hubungan dunia Islam dengan Rezim Zionis Israel lewat isu dialog antar agama. Dalam dialog itu para tokoh agama dunia diundang termasuk Presiden Rezim Zionis Israel. Di sela-sela konferensi dilakukan pertemuan rahasia dengan pemimpin rezim ini.

Aktivis Mesir untuk menghancurkan blokade di Gaza, Mahmud Al-Khudairi dalam wawancaranya dengan Televisi Al-Alam menyatakan, pemerintah Mesir menahan tiga karavan yang mengangkut bantuan kemanusiaan berupa bahan makanan dan obat-obatan ke Jalur Gaza yang melalui jalur penyeberangan Rafah. Di sisi lain warga Gaza hidup penuh kesulitan akibat blokade ini dan kondisi mereka sangat mengenaskan. Sikap Mesir ini jelas-jelas menunjukkan pembangkangannya terhadap kesepakatan para Menlu Liga Arab. Sementara itu, kapal perang Israel juga melakukan hal serupa dengan menahan masuknya kapal Libya yang mengangkut bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Jawaban dari pertanyaan ini mugkin masih bisa kita dapatkan dalam artikel yang bertema “Dampak Berbahaya Kelemahan Arab Menghadapi Israel” yang dimuat di Koran Al-Hayat edisi 5 Desember 2008. Di sana disebutkan bahwa fakta nyata yang ada dewasa ini adalah ketidakmampuan rejim-rejim Arab dalam menghadapi transformasi internasional, meski perkembangan tersebut bagi mereka sangat vital. Sejumlah pejabat Arab yang tidak bersedia identitasnya disebut menekankan bahwa kelemahan Dunia Arab dalam mengambil sikap bersama berbuntut pada kelemahan mereka dalam berdiplomasi. Hal ini mengakibatkan pemerintahan Dunia Arab kian lemah. Contoh nyata adalah apa yang terjadi dalam sidang terbaru Liga Arab yang digelar guna mendamaikan perselisihan antara pemerintah Otorita Palestina dan Hamas. Sidang tersebut akhirnya tidak membuahkan hasil apapun.

Selama hubungan antar negara Arab masih belum bersih dari permusuhan maka mereka tidak akan pernah berhasil mengambil keputusan bersama. Bukti nyata dari fenomena ini adalah kondisi memalukan saat ini yang kita saksikan di Jalur Gaza. Negara Arab tidak mampu bersatu dalam menyuarakan protes mereka terkait pelanggaran nyata Israel terhadap konstitusi internasional. Melihat kondisi Gaza, paling tidak negara Arab secara transparan menyuarakan protes mereke. Sayangnya, hal ini pun tidak mereka lakukan. Lebih dari itu, mereka tidak bersedia memanfaatkan kekuatan politik dan ekonominya untuk menekan masyatakat internasional agar bersedia mengakhiri blokade di Gaza. Misalnya saja, negara Arab membentuk delegasi yang terdiri dari para menteri untuk mendatangi negara-negara besar dunia termasuk anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan memaksa negara-negara ini untuk menekan Israel agar bersedia menghentikan kejahatannya dan mengakhiri blokade terhadap satu setengah juta warga Gaza.

Hanya satu atau dua negara Arab yang berusaha menyalurkan bantuan kepada warga Palestina. Bantuan itupun tidak pernah sampai kepada warga Gaza. Pemerintah Mesir sendiri sepertinya tidak mau atau tidak mampu untuk meringankan penderitaan warga Gaza yang berada di sebelah perbatasan sana, karena Kairo bersikukuh mematuhi perjanjian damainya dengan Israel dan tetap bergantung pada bantuan AS serta terlilit masalah internal khususnya terkait pengganti Hosni Mubarak, presiden Mesir. Troika Arab yang terkenal dan terdiri dari Mesir, Arab Saudi dan Suriah kini hanya tinggal nama belaka. Mesir sendiri sepertinya telah berubah menjadi bayangan belaka. Adapun Suriah sendiri hubungannya dengan kedua negara lainnya sangat tidak baik.

Sikap bungkam negara-negara Arab tidak dapat ditolirer di saat Israel dengan terang-terangan mengancam Jalur Gaza dan Lebanon. Dengan dalih menghentikan serangan roket pejuang Palestina ke wilayah pendudukan, Rezim Zionis Israel melakukan gempuran dan menggelar perang besar di Jalur Gaza. Ratusan warga Palestina termasuk banyak sekali wanita dan anak-anak gugur syahid menjadi korban keganasan mesin-mesin perang Zionis dan dicabik-cabik oleh kebuasan serigala-serigala berbentuk manusia. Tak ada yang diindahkan dan dihormati oleh rezim ini, tak ada aturan internasional dan tak ada rasa kemanusiaan.

Israel bagai berada di atas angin ketika menyaksikan Dunia Arab tak bisa mebuat apa-apa menyaksikan kejahatan dan maut yang ditebar di Gaza. Apalagi, rezim ini tak perlu merasa takut dan cemas akan hukuman internasional, toh ada AS dan sekutu-sekutunya di Dewan Keamanan PBB.

Selain Gaza, para pejabat tinggi Israel tidak mempunyai keraguan untuk memulai perang baru di Lebanon. Mereka sesumbar jika sekarang Gaza sedang dibakar, tak lama lagi giliran Hezbollah dan Lebanon akan segera tiba.

Samih Abdullah, seorang penulis Arab dalam tulisannya yang bertajuk “Mengapa Mesir Tak Membuka Perbatasannya dengan Gaza?” yang dimuat Koran Al-Ahram edisi 44650 (6 Desember 2008) memberikan jawaban yang mirip dengan sikap pemerintah Mesir sendiri, khususnya tudingan keterlibatan Kairo dalam memblokade dan mengisolasi di Jalur Gaza. Meski Abdullah dalam tulisannya tersebut berusaha menjustifikasi sikap Kairo, namun ia sendiri membenarkan tudingan yang dialamatkan kepada pemerintah Mesir.

Dalam tulisannya ia menyebutkan landasan pokok terkait hubungan antara Mesir dan Gaza:

·        Jalur Gaza merupakan wilayah Palestina yang berada di bawah kontrol pemerintah Otorita Palestina. Dengan alasan itu, Mesir tidak berhak mengambil sikap tersendir terkait Gaza tanpa bermusyawarah dengan pemerintah Otorita (dalam hal ini Mahmoud Abbas, bukan Hamas).

·        Mesir menjamin kesepakataan internasional yang menentukan masalah jalur penyeberangan Rafah. Kesepakataan tersebut mengharuskan kehadiran Eropa dan pemerintah Otorita saat pembukaan jalur penyeberangan Rafah. Mesir sendiri selalu mematuhi kesepakatan tersebut dan tidak bisa melanggarnya.

·        Mesir telah menandatangani perjanjian damai dengan Israel. Dan hal ini merupakan kebijakan strategis dalam politik regional dan internasional Mesir. Kairo berusaha untuk mematuhi perjanjian tersebut yang sudah menjadi kewajiban nasionalnya.

·        Meski tidak ada halangan bagi Mesir untuk melakukan langkah pengamanan di Jalur Gaza, namun kesepakatan damai dengan Israel merupakan halangan terbesar bagi Kairo. Tentara Mesir yang ditempatkan di perbatasaan timur negara ini sesuai kesepakatan hanya melakukan pengamaan perbatasan.

·        Hamas berhak memilih kebijakannya sendiri, namun mereka harus siap dengan akibatnya. Hamas harus bersedia menanggung akibat sikapnya yang tidak mengakui kesepakatan internasional yang ditandatangani pemerintah Otorita dan ketidakpedulian kelompok ini untuk mengakhiri dualisme pemerintahan di Palestina.

Patut diperhatikan bahwa apa yang ditulis Samih Abdullah menguatkan asumsi tentang perjanjian damai dengan Israel. Mesir juga terikat perjanjian dengan rezim Zionis untuk tidak memberikan bantuan apapun kepada warga Jalur Gaza meskipun hanya berupa makanan dan obat-obatan. Namun bersamaan dengan eskalasi blokade Israel terhadap warga Gaza bahkan serangan brutal dan tak berperikemanusiaan, sebuah berita mengejutkan terkait jabat tangan Rektor Al-Azhar, Mohamad Sayid Tantawi dengan Presiden Rezim Zionis Israel, Shimon Peres di sela-sela dialog antar agama di New York tersebar luas.

Tantawi pada mulanya berusaha menjustifikasi sikapnya tersebut dan mengklaim bahwa ia tidak mengenal Peres. Namun kemudian ia malah memberikan reaksi yang mengejutkan saat dikritik. Saat diwawancarai Koran Al-Arab Tantawi menyatakan tidak bersedia mengunjungi Iran, namun ia akan menyambut baik jika Peres bersedia mengunjungi Al-Azhar dan bersedia berkunjung ke Palestina pendudukan untuk bertemu dengan pejabat Israel.

Lain lagi sikap yang ditunjukkan media massa Israel dalam masalah ini. Media rezim Zionis melaporkan pula sikap Tantawi yang mulai mendekati Peres dan berjabat tangan dengan presiden Israel ini. Koran Maariv menulis, Tantawi adalah pegawai rendahan Husni Mubarak, Presiden Mesir yang telah membuka peluang dialog bersahabat dengan Peres.


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mau tahu ajaran KH.Ahmad Rifa’i?

Kategori

Top Rating

Info Blog’s

Tamu Kita

Sudah Dikunjungi :

  • 423,185 netter

RSS TANBIHUN.COM

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: