Haul Syeikh KH.Ahmad Rifa’i Bin Muhammad

Tinggalkan komentar

Februari 16, 2009 oleh Huruf


Haul Syeikh KH.Ahmad Rifa’i Bin Muhammad

Senin (20 Shafar 1430H) Di Masjid Baiturrahman Meduri, Tirto Pekalongan Barat

Jawa Tengah Indonesia

Dalam sebuah hajatan haulan (peringatan hari kematian) para ulama-ulama terdahulu, seringkali kegiatan ini di adakan sekali dalam setahun, termasuk seperti yang selalu diperingati oleh warga Rifa’iyah di Desa Meduri Tirto, Pekalongan Barat saat ini. Dalam tradisi haul ini ada beberapa point yang bisa kita ambil hikmahnya; seberapa pentingnya menyelenggarakan haulan seorang tokoh yang kita ikuti (panutan). Ada tiga alasan kenapa di-‘sunnah’-kan menyelenggarakan haulan seorang tokoh yang kita kagumi:

Pertama, pentingnya arti mengingat kematian. Kita harus selalu ingat bahwa Allah SWT siap mengambil nyawa kita tanpa perlu permisi. Kedua, kita butuh mengenang jasa-jasa orang saleh seperti kiai atau ulama. Kenapa kebutuhan? Jawabnya, agar kita bisa meniru, menghidupkan lagi, menyebarkan, amal-amal saleh yang telah dilakukan olehnya. Dengan kata lain, haulan adalah sebuah upaya melanjutkan sunnah hasanah (tradisi baik) yang telah dilakukan almarhum. Kalau ini bisa dilakukan dengan baik, maka pahala bukan hanya kita yang mendapatkan, tapi juga bagi almarhum.

Ketiga, yang tidak kalah pentingnya adalah, mendoakan almarhum. Orang Jawa biasa menyebutnya dengan kirim dungo, mengirimkan doa. Ritual kirim dungo yang dilakukan secara berjama’ah tidak hanya berdimensi transendental (Tuhan), tapi juga sosial. Haulan merupakan forum perjumpaan dan solidaritas sosial (silaturahim) . Sebab, dengan berkumpul atau berjama’ah, jaring-jaring sosial akan semakin kukuh.
Walaupun memang, ritual haul tidak ada dalil agamanya, secara khusus dan tersurat.

Pertanyaan selanjutnya “Kenapa bukan mauludan (hari kelahiran) yang diperingati?”

“Inilah perbedaan antara kita sebagai manusia biasa dengan Nabi Muhammad sebagai rasul Tuhan. Peringatan mauludan hanya layak kita rayakan untuk Baginda Nabi Muhammad SAW, karena kelahirannya membawa cahaya dan kabar gembira, juga peringatan. Kehadirannya dipastikan akan memberi jalan untuk mendapatkan hidayah Tuhan, mengejawantahkan akhlak mulia dan beradaban, mewujudkan kemaslahatan bagi semua, serta bergerak untuk keadilan sosial di muka bumi ini. Semuanya pasti akan dilakukan oleh Muhammad sebagai sang rasul. Sementara kita, hanya manusia biasa, tidak punya tugas seberat seperti Rasulullah. Peringatan ulang tahun (mauludan) Muhammad diselenggarakan untuk mengingatkan akan fungsi kenabiannya.”

Terus, Bagaimana dengan pesta ulang tahun yang sudah membudaya di masyarakat kita?. Jawaban sebenarnya tentu kita semua sudah tahu bahwa Peringatan ulang tahun atau biasa disingkat dengan ultah sebetulnya bukan tradisi kita. Namun, kita tidak bisa menghentikan kebiasaan/kultur (‘adah) yang sudah melekat kuat di masyarakat dengan serta-merta dan semena-mena.”

“Kita, sebagai umat Islam yang toleran dan kreatif musti bisa ‘memasuki’ perayaan ultah supaya tidak melanggar aturan agama. Lebih dari itu, kita wajib menggunakan sarana ultah biar muncul manfaatnya. Biar berisi. Tidak hanya tiup lilin dan makan-makan saja.”

Pertanyaan lain yang sering muncul di kalangan kita, “Bagaimana sikap kita kepada orang yang menghukumi bid’ah, baik acara haulan ataupun mauludan?” kata mereka bid’ah itu sesuatu yang tidak diajarkan agama atau Nabi Muhammad. Semua bid’ah itu sesat. Dan tiap kesesatan adalah dosa.”

Pertanyaan teologis itu bisa kita jawab dengan simple; bahwa kita tidak perlu untuk menghiraukan pendapat orang yang belum mengerti tentang masalah itu. Selagi tidak mengganggu, tidak apa-apa, biarkan saja. Tidak perlu dihardik. Pada suatu saat nanti mereka akan mengerti, dan melihat ada manfaat pada ibadah haulan dan maulidan itu. Dan mereka akan mengikutinya.”

Pada bulan Februari 2008, orang-orang Islam di kota telah memperingati hari kelahiran KH. Abdul Karim Amrullah yang keseratus tahun, atau seabad. Profil Buya Hamka –demikian nama populer KH. Abdul Karim Amrullah- diseminarkan, karya-karya dan pemikirannya diulas kembali di media-media masa, manakib-nya diwiridkan di depan massa yang berkumpul di masjid Agung Al-Azhar Jakarta, dll. Semuanya digelar untuk mengenang jasa-jasanya yang memang besar dan bermanfaat bagi generasi sesudahnya. Uniknya, Peringatan ini bukan hanya di selenggarakan di Indonesia saja, tetapi di Negeri Jiran: Malaysia pun,banyak kampus-kampus Islam, dan organisasi keagamaan yang ikut merayakannya.

Bulan berikutnya, Maret 2008, publik juga melihat peringatan 85 tahun Fatmawati. Dengan performence yang lebih “art”, Fatmawati yang istri Bung karno ini dihadirkan kembali lewat pameran lukisan, pakaian, pernak-pernik, semua benda-benda peninggalannya, dll. Tentu juga menyajikan pidato-pidato yang berkenaan dengan “Sang Penjahit” merah-putih.

Hal serupa, peringatan kelahiran, juga digelar untuk mengenang 100 tahun Sutan Takdir Alisahbana (STA). Dan meskipun samar-samar, lewat sebuah artikel, penggemar almarhum Nurkholis Madjid memperingati 1000 hari kematiannya.

Bulan Februari dan Maret 2008 yang sudah berlalu ini kita banyak menyaksikan perayaan-perayaan seorang tokoh, tak lupa, di dalamnya juga ada peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, tentu orang Islam yang merayakannya. Di bulan April ada peringatan hari Kartini. Sebad Kebangkitan Nasional juga dirayakan dengan gegap gempita bulan Mei.

Awal tahun 2009, di University Kebangsaan Malaysia mengadakan seminar sehari dalam rangka memperingati 100 Tahun H.M.Natsir, salah seorang tokoh di Negara Kita (Indonesia). Dalam seminar sehari itu, hadir beberapa panelis dari seluruh Negara Asean, termasuk diantaranya salah seorang pemimpin partai pembangkang (oposisi) Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, sebagai shohib al-hajah (tuan rumah), dalam seminar ini.

Dengan segala bentuk dan caranya, hari peringatan, baik mauludan maupun haulan, merupakan fenomena rakyat yang telah memasyarakat selama berabad-abad. Dalam rumusan antropolog Victor Turner, aktivitas haulan ataupun mauludan yang reguler diistilahkan dengan momentum “liminal”.

Disebut “liminalitas” karena di dalamnya melibatkan partisipasi komunitas/jama’ ah (bukan individu) serta dilaksanakan secara istiqomah pada waktu dan tempat yang telah disepakati bersama, yang tentunya terbuka. Momentum liminalitas ini banyak ditemui pada komunitas masyarakat tradisional di negeri ini. Sekedar menyebutkan contoh, di Aceh ada hari raya Megang, Yogyakarta ada Sekaten, di Klaten ada Yaqawiyyu, di Cirebon ada Syawalan dan Muludan, di Lombok ada Mandi Safar, dll., dan tentunya ritual-ritual hari raya agama (Lebaran, Nyepi, Natal, dll.). Momentum liminal ini diyakini memiliki makna yang dalam bagi pelakunya dan akan ikut mengubah perjalanan pada yang lebih baik, orang Jawa menyebutnya Berkah.

Nah, liminalitas haulan dan muludan ini berasal dari imajinasi kolektif bahwa peristiwa tersebut merupakan momentum penting yang diharapkan dapat menyegarkan dan menambah pengalaman kehidupan sosial di hari depan.

Sudah barang tentu, ritual haulan dan muludan mensyaratkan ongkos, baik material ataupun nonmateri. Tapi ongkos itu bukanlah kemubadziran atau kesiasiaan, apalagi bid’ah dhalalah, seperti yang kerap dituduhkan. Ongkos itu dikeluarkan dengan sadar dan ikhlas demi memupuk spiritualitas, menjalin tali solidaritas, dan perjumpaan antar sesama yang lebih manusiawi.

wassalam…

Sholli ‘Ala Muhammad Wa ‘Alaa Aalihi

Ibnu Dahlan El-Madary,

Candidat Master Islamic Revealed and Knowledge of Human Science, International Islamic University Malaysia (IIUM)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mau tahu ajaran KH.Ahmad Rifa’i?

Kategori

Top Rating

Info Blog’s

Tamu Kita

Sudah Dikunjungi :

  • 417,537 netter

RSS TANBIHUN.COM

  • May Day 2015 Buruh Wacanakan Pembentukan Partai Mei 1, 2015
    Tanbihun.com– Pengusaha dan Buruh adalah dua sisi keping mata uang yang tak mungkin dipisahkan. Buruh butuh pengusaha dan pengusaha butuh buruh. Tapi dalam perjalanan waktu sering buruh tidak setara dan dianggap tidak setara dengan pengusaha. Sering pengusaha terlalu kuat menjadikan buruh hanya sekedar sapi perah. Untuk itulah pemerintah hadir agar pengusaha […]
  • Mary Jane Ditunda Eksekusinya, Bagaimana Penundaan Hukuman Ini Menurut Islam? Mei 1, 2015
    Tanbihun.com– “Eksekusi Mary Jane ditunda” ujar Kapuspenkum Kejagung Tony Spontana saat dihubungi, Rabu (29/4/2015). Keputusan ini diambil setelah Presiden Filipina menelpon Presiden Jokowi, bahwa perekrut Mary Jane telah menyerahkan diri dan membuat pengakuan bahwa dialah yang mengirim Mary Jane untuk membawa Narkoba tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. B […]
  • Keistimewaan Senior Atas Yunior April 26, 2015
    “Qod Yuujadu fil Mafdhuul Maa Laa Yuujadu Fil Faadhil” (Kadang ditemukan keistimewaan bagi yunior yang tidak ada bagi senior) Tanbihun.com– Kaidah ini yg digunakan menjawab ulama ketika ditanya: mengapa Isa dan Maryam tidak tersentuh syetan dan tidak menangis ketika lahir??? Yang difirmankan al Quran u’iidzuhaa bika wa dzurriyyatahaa minasy syaithoonir rojii […]
%d blogger menyukai ini: