Khilafiyah Atau Bid’ah

Tinggalkan komentar

Februari 24, 2009 oleh Huruf


Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Menyebutkan bahwa suatu amal itu bid’ah sangat berbeda maknanya dengan menyebutkan bahwa hukum suatu masalah masih merupakan khilafiyah. Kalau mengatakan suatu amal adalah bid’ah, itu adalah vonis dan tuduhan yang bersifat final, sehingga siapapun yang melakukan amal tersebut, terkena ancaman masuk neraka. Sedangkan kalau kita menjelaskan bahwa suatu amal itu hukumnya masih menjadi khilaf di kalangan ulama, bukan vonis apalagi ancaman, melainkan penambahan informasi (ilmu) tentang suatu masalah.

Keduanya berbeda esensi dan semangat. Yang pertama, semangatnya adalah mengancam dan mem-black-list. Sedangkan yang kedua, semangatnya adalah kajian ilmu dan penambahan wawasan.

Namun keduanya sama-sama penting untuk dilakukan. Kalau suatu masalah sudah benar-benar qath’i dan mutlak, tentu saja yang harus dilakukan adalah mengingatkan umat agar tidak terjatuh ke dalam bid’ah. Sebab bid’ah itu memang sangat berbahaya bila sampai dilakukan. Seluruh elemen umat Islam wajib ikut memberantas bid’ah dan hukumnya fardhu ‘ain.

Namun bila kedudukan suatu amal itu oleh para ulama masih menjadi titik perbedaan pandangan, maka bukan pada tempatnya untuk langsung begitu saja menabuh genderang perang. Sebab yang satu mengharamkannya sedangkan yang lain tidak. Sementara semuanya datang dengan ijtihad yang nyata serta dilengkapi dengan dalil-dalil kuat yang tidak bisa dipungkiri. Dalam masalah seperti ini, tentu saja yang perlu dilakukan adalah memberikan wawasan dan informasi yang seluas-luasnya kepada umat. Bukan menjadikannya bahan saling mengejek dan menyakiti.

Bukan berarti kita pllin-plan atau tidak punya pilihan, melainkan tugas kita yang pertama adalah menyampaikan ilmu, meski materinya tentang perbedaan pendapat para ulama dalam suatu masalah. Adapun kalau secara langsung mendukung suatu pendapat dan menafikan pendapat yang lain, lebih tepat bila disampaikan dalam forum khusus dengan audience yang khusus pula.

Misalnya, ketika kita mengajar tata cara shalat buat anak TK, tentu akan jauh lebih bijaksana kalau kita mengambil satu pendapat saja untuk dijadikan rujukan. Tidak perlu anak TK itu dibuat bingung dengan adanya khilaf ulama dalam masalah shalat.

Namun sebaliknya, untuk mereka yang sudah lebih dewasa, misalnya para mahasiswa atau masyarakat umum yang di dalamnya terdiri dari banyak elemen mazhab dan kecenderungan, akan lebih tepat bila kita menyajikannya dengan dilengkapi informasi perbedaan pendapat yang berkembang. Sehingga ketika seseorang mendapati saudaranya shalat dengan cara yang berbeda, dia bisa punya sikap yang bijaksana. Tidak lantas mencaci maki, menjelek-jelekkan, mengatainya sebagai ahli bid’ah dan kata-kata kotor lainnya.

Sebab dalam kenyataannya, para ulama memang berbeda pendapat dalam masalah furu’ (cabang). Sayangnya, kalau para ulama bisa dengan santai berbeda pendapat, namun justru orang-orang awam yang kurang ilmu dan tidak punya wawasan menjadikan perbedaan pendapat itu sebagai bahan untuk saling menuai dosa.

Dan sebenarnya, justru di situlah letak perbedaan asasi antara seorang ulama betulan dengan orang awam tapi sok tahu. Seorang yang banyak ilmunya memiliki sekian banyak wawasan dan mudah memaklumi perbedaan pendapat. Sebaliknya, seorang yang sok jadi ulama tapi sesungguhnya kurang pantas, seringkali dengan mudah melepar tuduhan ke sana ke mari. Seolah-olah di dunia ini hanya dirinya saja yang benar, sedangkan orang lain semuanya pasti salah.

Rubrik ini diarahkan untuk memberikan wawasan yang lebih luas. Bila dalam suatu masalah memang terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, sebisa mungkin disampaikan dan diupayakan dengan disertai dalil masing-masing pendapat itu. Semua ini agar kita bisa lebih banyak belajar, lebih banyak tahu dan lebih punya perbandingan. Tidak seperti katak yang hidup di bawah tempurung tapi merasa mengetahui segalanya.

Mungkin buat sebagian kalangan agak membingungkan ketika mendapati bahwa jawaban yang diberikan selalu saja menyertakanperbedaan pendapat ulama. Malah tambah bingung mau ikut pendapat yang mana. Hal itu wajar terjadi, mungkin karena terbiasa diajarkan dengan satu versi saja, sehingga begitu tahu ada versi-versi lainnya, malah jadi semakin merepotkan.

Namun metode ini akan lebih bermanfaat buat mereka yang dinamis dan banyak bergaul dengan banyak kalangan serta mendapati kenyataan bahwa dalam banyak masalah furu’iyah, umat Islam memang berbeda. Keterangan tentang khilaf dalam jawaban-jawaban ini akan bisa menjadi pegangan atas kebingungan tersebut. Sehingga para pembaca akan lebih mendapat wawasan yang luas dan lengkap tentang suatu masalah. Tanpa merasa harus memusuhi siapapun yang pendapatnya tidak sama. Karena berbeda pendapat dalam masalah furu’iyah itu memang tidak boleh dilanjutkan menjadi permusuhan, apalagi bersemangat untuk menghina dan mencaci maki saudara muslim.

Perbedaan pendapat tentang suatu masalah sudah merupakan hal yang tidak bisa dipungkiri. Sudah ada jauh sejak masa ulama salaf, bahkan para tabi’in dan para shahabat pun sering kali berbeda pendapat. Nabi-nabi pun dalam banyak masalah teknis mungkin saling berbeda pendapat. Kalau para nabi berbeda pendapat, demikian juga para shahabat, tabi’in, tabi’it-tabi’in dan para ulama salaf, mengapa kita yang hidup jauh dari mereka tidak boleh berbeda pendapat?

Mengapa kita hanya memberikan satu tempat untuk kebenaran, padahal Rasulullah SAW tidak menyalahkan ketika ada dua pendapat yang berkembang?

Sebenarnya sikap merasa paling benar sendiri bukan ciri para ulama. Apalagi sampai mencaci maki ulama lain yang berbeda, bahkan sampai menuduh bid’ah dan membongkar aib dan kekurangan masing-masing. Semua bukan ciri dari seorang yang berilmu, sebaliknya mencirikan keawaman dan ketidak-pahamannya sendiri.

Wasssalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatu,

Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mau tahu ajaran KH.Ahmad Rifa’i?

Kategori

Top Rated

Info Blog’s

Tamu Kita

Sudah Dikunjungi :

  • 404,891 netter

RSS TANBIHUN.COM

  • May Day 2015 Buruh Wacanakan Pembentukan Partai Mei 1, 2015
    Tanbihun.com– Pengusaha dan Buruh adalah dua sisi keping mata uang yang tak mungkin dipisahkan. Buruh butuh pengusaha dan pengusaha butuh buruh. Tapi dalam perjalanan waktu sering buruh tidak setara dan dianggap tidak setara dengan pengusaha. Sering pengusaha terlalu kuat menjadikan buruh hanya sekedar sapi perah. Untuk itulah pemerintah hadir agar pengusaha […]
  • Mary Jane Ditunda Eksekusinya, Bagaimana Penundaan Hukuman Ini Menurut Islam? Mei 1, 2015
    Tanbihun.com– “Eksekusi Mary Jane ditunda” ujar Kapuspenkum Kejagung Tony Spontana saat dihubungi, Rabu (29/4/2015). Keputusan ini diambil setelah Presiden Filipina menelpon Presiden Jokowi, bahwa perekrut Mary Jane telah menyerahkan diri dan membuat pengakuan bahwa dialah yang mengirim Mary Jane untuk membawa Narkoba tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. B […]
  • Keistimewaan Senior Atas Yunior April 26, 2015
    “Qod Yuujadu fil Mafdhuul Maa Laa Yuujadu Fil Faadhil” (Kadang ditemukan keistimewaan bagi yunior yang tidak ada bagi senior) Tanbihun.com– Kaidah ini yg digunakan menjawab ulama ketika ditanya: mengapa Isa dan Maryam tidak tersentuh syetan dan tidak menangis ketika lahir??? Yang difirmankan al Quran u’iidzuhaa bika wa dzurriyyatahaa minasy syaithoonir rojii […]
%d blogger menyukai ini: