Mudahnya Berbicara

Tinggalkan komentar

Maret 18, 2009 oleh RIFA'I AHMAD


BerbicaraCORBIS/ILUSTRASI

Menurut hikayat klasik, konon, pada suatu hari, tikus-tikus berkumpul dan menggelar seminar akbar. Tujuannya untuk mencari masukan tentang cara yang efektif menghadapi ancaman kucing. Lalu, kata Sahibul Hikayat, seluruh peserta seminar sepakat untuk membikin ”kalung krincingan” buat si kucing, musuh bebuyutan mereka, agar langkahnya dapat dideteksi, dan tikus-tikus pun mudah menyelamatkan diri.

Namun, suasana seminar tikus ini menjadi agak tegang ketika pembahasan sampai pada pertanyaan, ”Siapa di antara mereka yang berani memasang kalung itu ke leher si kucing?” Seluruh peserta terdiam dan tak satu pun bersedia menyanggupinya. Dari kisah ini lalu muncullah ungkapan Arab, ”Ma ashal al-kalam wa ma ash’ab al-‘amal Betapa mudah berkata, dan betapa sulit mewujudkan perkataan itu”.

Kenyataan seperti di atas, sering kita saksikan dalam kehidupan di sekeliling kita. Kita sering melihat orang yang perkataannya di depan forum begitu mempesona, menarik hati, dan mengundang tepuk tangan meriah. Sayangnya, tak jarang semua itu sekadar ucapan dan isapan jempol. Allah SWT pernah mengingatkan Nabi SAW perihal orang seperti ini.

”Dan di antara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya atas kebenaran isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.” Q. S. 2: 204.

Ayat ini, turun berkenaan dengan olah Akhnas bin Syarik, seorang yang menyatakan keislamannya secara terbuka di depan Nabi SAW dan kaum Muslimin. Tapi, ia sesungguhnya seorang munafik, yang perkataannya tak sesuai dengan perbuatannya.

Sikap mental hipokrit dan budaya semangat forum yang dualistik, seperti diperlihatkan Akhnas, sungguh sangat tidak sejalan dengan nilai-nilai keislaman. ”Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Sungguh besar murka Allah bila kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” Q.S. 61: 2-3. Tidak heran bila Nabi SAW selalu mengingatkan agar kita berkata benar atau berdiam diri.

Pada suatu hari Nabi SAW kedatangan seorang tamu yang kelihatannya cukup beken. Dalam pembicaraannya dengan Nabi, orang itu selalu berusaha untuk mengungguli setiap kata yang diucapkan oleh beliau.

Setelah orang itu berlalu, Nabi SAW berkata kepada para sahabatnya, ”Allah SWT tidak suka kepada orang tadi dan orang-orang lain yang serupa. Mereka terlalu biasa memutar-balikkan lidahnya kepada setiap orang, seperti sapi di tempat gembalaan. Dan seperti itu pula Allah kelak akan memutar-mutarkan lidah dan wajah mereka dalam api neraka.” – ahi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mau tahu ajaran KH.Ahmad Rifa’i?

Kategori

Top Rating

Info Blog’s

Tamu Kita

Sudah Dikunjungi :

  • 423,072 netter

RSS TANBIHUN.COM

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: