Melaksanakan Amanah

Tinggalkan komentar

Maret 20, 2009 oleh RIFA'I AHMAD


Sifat amanahFLICKR/ILUSTRASI

Tatkala Allah SWT menawarkan amanat (tugas-tugas keagamaan) kepada langit, bumi, dan gunung-gunung untuk dipikulnya, semuanya menolak. Mereka khawatir akan mengkhianatinya. Amanat itu lalu diemban oleh manusia. Namun manusia mudah melalaikannya; sungguh ia sangat zalim dan amat bodoh (baca Q. S. 33: 72). Kesediaan manusia memikul amanat merupakan sebuah pilihan yang menentukan. Keputusan Allah di akhirat kelak, antara lain bergantung pada sejauh mana amanat dibawa oleh manusia: Ia akan menyiksa orang munafik serta musyrik, dan mengampuni orang mukmin (baca Q. S. 33: 73). Amanat menjadi batu ujian bagi manusia. Agar berhasil menjalankan amanat, manusia harus mampu meneguhkan sifat amanah (tepercaya karena jujur dan bertanggung jawab) di dalam dirinya.

Sifat amanah akan mengantarkan seseorang kepada kedudukan mulia. Kehidupan Nabi SAW — sungguh pun belum menjadi nabi — adalah contohnya. Sebagai orang yang amin (tepercaya), di kala umurnya belum mencapai 25 tahun, beliau sudah diamanati oleh Khadijah untuk mengurus bisnisnya yang beroperasi hingga ke Negeri Syams (Suriah). Pada usia ke-35, para pemimpin suku Quraisy sepakat memberi beliau amanat menyelesaikan persengketaan soal siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad di tempatnya, di sudut Ka’bah. Tugas-tugas tadi diselesaikan dengan baik, sehingga layaklah beliau bergelar Al-Amin. Islam memandang sifat amanah sebagai bagian tak terpisahkan dari keimanan. Konsekuensi beriman adalah menaati semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Jadi, iman itu sendiri suatu amanat bagi seorang mukmin. Karenanya, Allah berpesan agar seorang mukmin senantiasa menunaikan amanat dan janganlah berkhianat. Firman-Nya, ”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (Q. S. 4: 58).

Pantulan dan jelmaan iman seseorang dapat tampak pada sikap dan sifat amanahnya di dalam menjalankan profesi, jabatan, atau kedudukan apa pun yang dipegangnya. Seorang hakim akan dikatakan amin, jika menjunjung keadilan dalam memutuskan perkara. Pejabat yang amin tentu mengutamakan pengabdian kepada rakyat dan negara. Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap saling amanah merupakan kekuatan moral yang bukan hanya mampu menepis berbagai kecurangan dan penipuan, melainkan sanggup pula memacu etos amal yang produktif. ”Dunia,” tutur Nabi SAW, ”tak akan mengancam manusia sepanjang empat perkara dipertahankan: memelihara amanat, berbicara benar, berperangai baik, dan berusaha secara bersih.”  – ahi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mau tahu ajaran KH.Ahmad Rifa’i?

Kategori

Top Rated

Info Blog’s

Tamu Kita

Sudah Dikunjungi :

  • 404,891 netter

RSS TANBIHUN.COM

  • May Day 2015 Buruh Wacanakan Pembentukan Partai Mei 1, 2015
    Tanbihun.com– Pengusaha dan Buruh adalah dua sisi keping mata uang yang tak mungkin dipisahkan. Buruh butuh pengusaha dan pengusaha butuh buruh. Tapi dalam perjalanan waktu sering buruh tidak setara dan dianggap tidak setara dengan pengusaha. Sering pengusaha terlalu kuat menjadikan buruh hanya sekedar sapi perah. Untuk itulah pemerintah hadir agar pengusaha […]
  • Mary Jane Ditunda Eksekusinya, Bagaimana Penundaan Hukuman Ini Menurut Islam? Mei 1, 2015
    Tanbihun.com– “Eksekusi Mary Jane ditunda” ujar Kapuspenkum Kejagung Tony Spontana saat dihubungi, Rabu (29/4/2015). Keputusan ini diambil setelah Presiden Filipina menelpon Presiden Jokowi, bahwa perekrut Mary Jane telah menyerahkan diri dan membuat pengakuan bahwa dialah yang mengirim Mary Jane untuk membawa Narkoba tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. B […]
  • Keistimewaan Senior Atas Yunior April 26, 2015
    “Qod Yuujadu fil Mafdhuul Maa Laa Yuujadu Fil Faadhil” (Kadang ditemukan keistimewaan bagi yunior yang tidak ada bagi senior) Tanbihun.com– Kaidah ini yg digunakan menjawab ulama ketika ditanya: mengapa Isa dan Maryam tidak tersentuh syetan dan tidak menangis ketika lahir??? Yang difirmankan al Quran u’iidzuhaa bika wa dzurriyyatahaa minasy syaithoonir rojii […]
%d blogger menyukai ini: