AMAL YANG DITERIMA ALLAH

Tinggalkan komentar

Maret 27, 2009 oleh RIFA'I AHMAD


Oleh : Muhammad Abidun Zuhri

Sesungguhnya manusia ditakdirkan hidup dunia ini bukanlah untuk bermain-main dan bersenang-senang saja. Jika manusia ingin bermain-main dan bersenang-senang saja, ia layak hidup bersama dengan hewan yang kehidupannya hanyalah untuk makan, minum, dan memuaskan nafsu.

Manusia diciptakan di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah swt., bukan untuk beribadah kepada malaikat, roh, setan, jin, pohon keramat, matahari, bintang, dan makhluk-makhluk yang lain. Juga tidak untuk menuruti kesenangan dan adat istiadat atau aturan-aturan yang diciptakan oleh manusia sendiri, tanpa memperhitungkan syara’. Allah swt. berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz-Dzâriyât: 56)

Sesuai dengan ayat di atas, manusia dan jin diciptakan di dunia ini hanyalah untuk tunduk kepada Allah dan menyembah kepada-Nya. Demikian merupakan penafsiran sahabat Ibnu Abbas r.a. Penafsiran yang lain yang diriwayatkan dari Zaid bin Aslam r.a. menyatakan bahwa jin dan manusia yang bahagia diciptakan untuk menyembah kepada Allah, sedangkan jin dan manusia yang celaka diciptakan untuk durhaka kepada-Nya.

Setelah menyebutkan dua penafsiran di atas, Imam Thabari (imam para mufasir) mengatakan bahwa penafsiran yang paling benar terhadap ayat di atas adalah penafsiran Ibnu Abbas r.a. Imam Thabari mengatakan,

وَأَوْلَى الْقَوْلَيْنِ فِيْ ذَلِكَ بِالصَّوَابِ الْقَوْلُ الَّذِيْ ذَكَرْنَا عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَهُوَ: مَا خَلَقْتُ الْجِنَّّ وَالْإِنْسَ إِلاَّ لِعِبَادَتِنَا، وَالتَّذَلُّلِ لِأَمْرِنَا.

“Di antara dua pendapat (penafsiran) yang paling benar adalah pendapat yang telah kami sebutkan dari Ibnu Abbas r.a., yaitu, ‘Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku dan tunduk terhadap perintah-Ku.'” (Ibnu Jarir ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta`wîl al-Qur`ân, juz 22, hlm. 443)

Agar manusia mengetahui tata cara beribadah kepada Allah swt., maka Allah mengutus para Rasul yang dimulai dari Nabi Adam a.s. sampai Nabi Muhammad saw. Mereka adalah manusia yang telah dipilih oleh Allah untuk menyampaikan ajaran agama yang menjamin manusia untuk hidup bahagia di dunia dan akhirat. Dan ajaran agama yang lengkap dan cocok untuk segala tempat dan waktu hingga hari Kiamat adalah ajaran agama yang telah dibawa oleh Rasulullah saw., termasuk di dalamnya adalah tata cara beribadah kepada Allah swt.

Segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah agar beliau sampaikan kepada umat, pasti beliau telah menyampaikannya. Tidak ada sedikit pun perintah Allah yang beliau simpan dan tidak beliau sampaikan kepada umat manusia. Pada saat sakit yang terakhir (sakit yang mengantarkan beliau untuk pergi dari dunia), beliau bersabda,

اللَّهُمَّ قَدْ بَلَّغْتُ.

“Ya Allah, sungguh aku telah menyampaikan (risalah-Mu).”

Beliau mengucapkan hal itu tiga kali. (HR Nasa`i; hadits sahih)

Pada saat haji haji wada’, para sahabat memberikan kesaksian bahwa beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanat, dan menasehati umat. Lalu beliau bersabda,

اللَّهُمَّ اشْهَدْ اللَّهُمَّ اشْهَدْ.

“Ya Allah, saksikanlah, ya Allah, saksikanlah. (HR Muslim; hadits sahih)

Karena itu, agar suatu ibadah atau amal diterima oleh Allah swt., harus memenuhi dua syarat: (1) niat yang benar, yakni ikhlas karena Allah, (2) dan sesuai dengan syariat. Dengan demikian, niat yang benar saja tidak cukup. Misalnya, seseorang ingin menolong orang yang fakir, tetapi harta yang ia pergukan untuk menolongnya ia dapatkan dari mencuri. Di sini, niatnya memang benar, karena ia ingin menolong orang yang fakir. Tetapi, caranya salah, karena ia mencuri terlebih dahulu untuk mendapatkan harta.

Begitu juga, caranya benar, tetapi niatnya tidak benar. Misalnya, seseorang bersedekah kepada orang yang fakir dari hartanya sendiri, tetapi ia berniat agar mendapatkan pujian atau dinilai orang lain sebagai dermawan. Di sini, caranya benar karena ia bersedekah dengan harta miliknya sendiri. Namun, niatnya yang salah karena ia melakukan sedekah bukan karena Allah swt. Jadi, harus lengkap; niat yang benar dan cara yang benar.

Adapun dalil tentang kedua syarat tersebut banyak sekali, baik dalil dari Al-Qur`an maupun hadits. Di bawah ini, saya sebutkan sebagiannya saja.

1. Dalil Al-Qur`an

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْ لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا.

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (al-Kahfi: 110)

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa barangsiapa yang ingin bertemu dengan Tuhan-nya dengan selamat atau dengan mendapat pahala dari-Nya, hendaklah ia melakukan amal saleh dan tidak memersekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Amal saleh itu adalah amal yang benar yang sesuai dengan syariat, baik amal yang berhubungan dengan Allah (biasa disebut dengan ibadah) maupun amal yang berhubungan dengan manusia (biasa disebut dengan muamalah).

Ketika menafsirkan amal saleh dalam ayat tersebut, Imam Syaukani mengatakan,

وَهُوَ مَا دَلَّ الشَّرْعُ عَلَى أَنَّهُ عَمَلٌ خَيْرٌ يُثَابُ عَلَيْهِ فَاعِلُهُ.

“Amal saleh adalah amal yang ditunjukkan oleh syara’ bahwa ia merupakan amal yang baik yang pelakunya akan diberi pahala.” (Syaukani, Fath al-Qadîr, juz 4, hlm. 434)

Jadi, amal saleh itu amal yang didukung oleh syara’. Setiap amal yang tidak didukung oleh syara’ tidak disebut dengan amal saleh, meskipun banyak manusia mengganggapnya saleh! Amal yang tidak saleh tersebut jika dilakukan oleh seseorang tidak akan diterima oleh Allah swt.

Larangan mempersekutukan Allah swt. dalam lanjutan ayat di atas berarti di dalam beribadah seseorang harus mengikhlaskan niat karena Allah swt. Ia tidak boleh berbuat syirik. Ketika ia berbuat syirik, maka ibadah yang dilakukannya tidak sah dan menjadi sia-sia. Larangan syirik tersebut mencakup syirik akbar dan syirik ashghar. Syirik akbar adalah syirik yang menyebabkan seseorang tidak akan terampuni dosa-dosanya (jika tidak bertaubat). Adapun yang dimaksud syirik asghar adalah riya. Kedua-keduanya menjadi penghalang diterimanya suatu amal.

2. Dalil Hadits

Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

“Barang siapa yang melakukan suatu amal yang tidak berdasarkan hukum kami, amalnya itu tertolak.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Daruquthni, dan Ahmad; hadits sahih)

Setelah menyebutkan hadits tersebut, Imam Nawawi mengatakan,

وَهَذَا الْحَدِيْثُ قَاعِدَةٌ عَظِيْمَةٌ مِنْ قَوَاعِدِ الْإِسْلاَمِ، وَهُوَ مِنْ جَوَامِع كَلِمِهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ صَرِيْحٌ فِي رَدِّ كُلّ الْبِدَعِ وَالْمُخْتَرَعَاتِ.

“Hadits ini adalah kaidah besar di antara kaidah-kaidah Islam. Hadits ini termasuk bagian dari jawâmi’ul kalim (kata-kata yang singkat, namun mengandung banyak makna) beliau, karena hadits ini sangat jelas dalam menolak segala bid’ah dan perkara-perkara yang dibuat-buat manusia (dalam bidang agama).” (Nawawi, Syarah Shahih Muslim, juz 6, hlm. 150)

Ibnu Hajar juga berkomentar terhadap hadits ini dengan mengatakan,

وَهَذَا الْحَدِيْثُ مَعْدُوْدٌ مِنْ أُصُوْلِ الْإِسْلاَمِ وَقَاعِدَةٌ مِنْ قَوَاعِدِهِ، فَإِنَّ مَعْنَاهُ: مَنْ اِخْتَرَعَ فِي الدِّيْنِ مَا لاَ يَشْهَدُ لَهُ أَصْلٌ مِنْ أُصُوْلِهِ فَلاَ يُلْتَفَتُ إِلَيْهِ.

“Hadits ini termasuk bagian dari pokok-pokok Islam dan kaidah-kaidahnya, karena maknanya adalah barang siapa yang menciptakan sesuatu yang baru di dalam agama, yang tidak didukung oleh suatu landasan dari landasanlandasannya, maka tidak diperhatikan (tidak diterima).” (Ibnu Hajar, Fath al-Bârî, juz 8, hlm. 229)

Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan,

وَهَذَا الْحَدِيْثُ أَصْلٌ عَظِيْمٌ مِنْ أُصُوْلِ الْإِسْلاَمِ، وَهُوَ كَالْمِيْزَانِ لِلْأَعْمَالِ فِيْ ظَاهِرِهَا كَمَا أَنَّّ حَدِيْثَ (( الْأَعْمَالُ بِالنيَّاتِ )) مِيْزَانٌ لِلْأَعْمَالِ فِيْ بَاطِنِهَا.

“Hadits ini adalah pokok yang agung di antara pokok-pokok Islam. Dia sebagai timbangan amal dari sisi luarnya, sebagaimana hadits, ‘Segala perbuatan itu dengan niat,’ sebagai timbangan amal dari sisi dalamnya.” (Ibnu Rajab al-Hanbali, Jâmi’ al-‘Ulûm wal-Hikam, juz 7, hlm. 1)

3. Perkataan Para Ulama

Banyak ulama yang telah menjelaskan dua syarat diterimanya sebuah amal yang dilakukan manusia. Saya tidak mengetahui adanya pendapat ulama yang menyelisihi dua syarat tersebut. Jika ada yang menyelisihinya, ia harus berurusan dengan banyaknya dalil-dalil Al-Qur`an dan hadits yang jelas dan tegas dalam menunjukkan kedua syarat tersebut. Di bawah ini, saya sebutkan sebagian dari perkataan ulama.

Ibnu Katsir mengatakan,

وَهَذَانِ رُكْنَا الْعَمَلِ الْمُتَقَبَّلِ: لاَ بُدَّ أَنْ يَكُوْنَ خَالِصًا لِلَّهِ، صَوَابًا عَلَى شَرِيْعَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Inilah dua rukun amal yang diterima (Allah): (1) harus ikhlas karena Allah, (2) dan sesuai dengan syariat Rasulullah saw.” (Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm, juz 3, hlm. 109)

Fudhail yang dikutip oleh Ibnu Rajab mengatakan,

إنَّ الْعَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصاً، وَلَمْ يَكُنْ صَوَاباً، لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَاباً، وَلَمْ يَكُنْ خَالِصاً، لَمْ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُوْنَ خَالِصاً صَوَاباً، قَالَ: وَالْخَالِصُ إِذَا كَانَ لِلَّهِ – عَزَّ وَجَلَّ -، وَالصَّوَابُ إِذَا كَانَ عَلَى السُّنَّةِ.

“Sesungguhnya amal yang ikhlas, namun tidak benar, tidak diterima. Dan amal yang benar, namun tidak ikhlash, juga tidak diterima, sehingga (harus) ikhlas dan benar. Amal yang ikhlas adalah amal yang (dilakukan) karena Allah dan amal yang benar adalah amal yang sesuai dengan Sunnah Nabi saw.” (Ibnu Rajab al-Hanbali, Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam, juz 3, hlm. 20)

Syekh Amad Rifai bin Muhammad al-Jawi mengatakan,

لاَ يَقْبَلُ الْعَمَلَ إِلاَّ خَالِصًا صَوَابًا.

Ora narimo Allah ing amal kawulane

Anging kang ikhlash kang bener lakune.

Allah tidak menerima amal seorang hamba

Kecuali yang ikhlas dan benar adanya. (Syekh Amad Rifai, Ria’yâh al-Himmah, juz 2)

Syekh Ahmad Rifai menambahkan,

Utawi rukune ikhlas ing ibadah

iku rong perkoro tinemu kahimmah

kangdihin atine nejo ing Allah tho’at

ora nejo ing liyane Allah dihajat

kapindo bener zhahire kelakuan

kang disahaken dene fiqih panggeran.

Rukun ikhlas di dalam ibadah

Ada dua yang sangat penting

Pertama; tujuan hati untuk taat kepada Allah

Tak bertujuan untuk selain Allah

Kedua; benarnya zahir perbuatan

Sebagaimana ilmu fiqih mengesahkan. (Syekh Amad Rifai, Ria’yâh al-Himmah, juz 2)

Selanjutnya, Syekh Ahmad Rifai menyebutkan perkataan ulama di bawah ini,

وَالنِّيَّةُ وَالْقَوْلُ ثُمَّ الْعَمَلُ بِغَيْرِ وِفْقِ سُنَّةٍ لاَ تَكْمُلُ

“Niat, perkataan, dan perbuatan yang tidak sesuai dengan Sunnah (Rasulullah saw.) tidak sempurna.” (Syekh Amad Rifai, Ria’yâh al-Himmah, juz 2)

Tidak sempurna dalam perkataan di atas sama dengan tidak sah atau tidak diterima karena amal apapun harus sesuai dengan Sunnah Rasul saw., sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas.

Dengan demikian, jelaslah bahwa dalam melakukan suatu amal kita harus memperhatikan apakah telah kita lakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan yang telah digariskan oleh syara’? Kita tidak boleh melakukan suatu amal hanya karena banyak orang telah melakukannya atau ada seorang tokoh telah ikut serta di dalamnya. Banyaknya orang yang melakukan dan dukungan dari seorang yang dianggap tokoh bukan jaminan kebenaran. Jaminan kebenaran adalah syara’ yang keseluruhannya telah disampaikan oleh Rasulullah saw. kepada para sahabat beliau. Wallahu a’lam. M. Abidun Zuhri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mau tahu ajaran KH.Ahmad Rifa’i?

Kategori

Top Rated

Info Blog’s

Tamu Kita

Sudah Dikunjungi :

  • 404,891 netter

RSS TANBIHUN.COM

  • May Day 2015 Buruh Wacanakan Pembentukan Partai Mei 1, 2015
    Tanbihun.com– Pengusaha dan Buruh adalah dua sisi keping mata uang yang tak mungkin dipisahkan. Buruh butuh pengusaha dan pengusaha butuh buruh. Tapi dalam perjalanan waktu sering buruh tidak setara dan dianggap tidak setara dengan pengusaha. Sering pengusaha terlalu kuat menjadikan buruh hanya sekedar sapi perah. Untuk itulah pemerintah hadir agar pengusaha […]
  • Mary Jane Ditunda Eksekusinya, Bagaimana Penundaan Hukuman Ini Menurut Islam? Mei 1, 2015
    Tanbihun.com– “Eksekusi Mary Jane ditunda” ujar Kapuspenkum Kejagung Tony Spontana saat dihubungi, Rabu (29/4/2015). Keputusan ini diambil setelah Presiden Filipina menelpon Presiden Jokowi, bahwa perekrut Mary Jane telah menyerahkan diri dan membuat pengakuan bahwa dialah yang mengirim Mary Jane untuk membawa Narkoba tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. B […]
  • Keistimewaan Senior Atas Yunior April 26, 2015
    “Qod Yuujadu fil Mafdhuul Maa Laa Yuujadu Fil Faadhil” (Kadang ditemukan keistimewaan bagi yunior yang tidak ada bagi senior) Tanbihun.com– Kaidah ini yg digunakan menjawab ulama ketika ditanya: mengapa Isa dan Maryam tidak tersentuh syetan dan tidak menangis ketika lahir??? Yang difirmankan al Quran u’iidzuhaa bika wa dzurriyyatahaa minasy syaithoonir rojii […]
%d blogger menyukai ini: