Bersikap Ksatria

Tinggalkan komentar

Mei 11, 2009 oleh RIFA'I AHMAD


hiroIbn al-Husain as-Sulami dalam bukunya Futuwwah telah mengupas perpaduan antara syari’ah fiqhiyah dengan tasauf. Dalam buku tersebut diungkapkan makna tentang perasaan haru, kasih sayang, cinta, persahabatan, kedermawanan, dan keksatriaan.

Futuwwah sendiri, menurut Ibn al-Husain, adalah satu sikap jantan yang harus dimiliki oleh setiap pribadi muslim, yaitu sikap keberanian dan kekuatan untuk selalu berpihak kepada Allah. Meleburkan kepentingan pribadi dan menonjolkan kebenaran Ilahi seperti dilukiskan oleh pribadi para sahabat yang berani tampil mempertahankan kebenaran dengan mengabaikan kepentingan pribadi.

Agar kita memahami lebih mendasar makna dari futuwwah ini, maka simaklah beberapa sikap ksatria, pengorbanan, dan kejantanan sebagaimana yang ditulis oleh as-Sulami berdasarkan hadis shahih di bawah ini. Khalifah Umar Ibn Khattab menuturkan sebuah riwayat: Pada suatu hari, Rasulullah SAW meminta bantuan dana kepada kami. Aku berhasrat untuk melebihi Abu Bakar yang selalu paling bersemangat dalam setiap perbuatan baik. Aku membawa separo harta kekayaanku dan datang menemui Rasulullah.

Lalu kuberitahukan kepada beliau bahwa sumbanganku ini separo dari segala hartaku, sedangkan sisanya kutinggalkan untuk keluargaku. Pada saat yang bersamaan Abu Bakar datang dengan membawa sekantong besar emas dan meletakkannya di kaki Rasulullah. Ketika Abu Bakar ditanya oleh Rasulullah, tentang berapa persen harta yang disumbangkan, maka Abu Bakar menjawab, ‘Seluruhnya!’ Kemudian Rasulullah menatapku, dan bertanya lagi kepada Abu Bakar, ‘Lantas apa yang tersisa bagimu dan keluargamu? ‘Abu Bakar menjawab singkat, ”Cukuplah bagiku Allah dan Rasul-Nya’.

Futuwwah (berasal dari kata fata, dan jamaknya fityan), secara harfiah berarti pemuda yang tampan dan gagah berani. Dalam perkembangan makna bahasa, kaum sufi kemudian mengartikan futuwwah sebagai sikap ikhlas yang terpuji, perilaku yang rindu untuk meneladani akhlak para nabi, para sahabat, dan para hamba yang saleh.

Sifat seperti ini dapat disimak dari kejantanan Nabi Ibrahim dan Yusuf, yang ikhlas untuk mengorbankan apa saja untuk Allah. Sifat Yusuf yang ternista dan terbuang di sumur yang dalam, tetapi mampu memaafkan saudara-saudaranya.

Begitu pula dengan sifat Nabi Muhammad SAW. Ketika penduduk Thaif menghina beliau dengan lemparan batu, beliau bukannya marah, tapi justru memaafkan. Bahkan beliau kemudian mendoakan orang yang telah menistanya dengan sebuah doa yang sangat indah: ”Ya Allah, ampunilah mereka semua, karena mereka tidak mengetahui.” – ahi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mau tahu ajaran KH.Ahmad Rifa’i?

Kategori

Top Rated

Info Blog’s

Tamu Kita

Sudah Dikunjungi :

  • 404,891 netter

RSS TANBIHUN.COM

  • May Day 2015 Buruh Wacanakan Pembentukan Partai Mei 1, 2015
    Tanbihun.com– Pengusaha dan Buruh adalah dua sisi keping mata uang yang tak mungkin dipisahkan. Buruh butuh pengusaha dan pengusaha butuh buruh. Tapi dalam perjalanan waktu sering buruh tidak setara dan dianggap tidak setara dengan pengusaha. Sering pengusaha terlalu kuat menjadikan buruh hanya sekedar sapi perah. Untuk itulah pemerintah hadir agar pengusaha […]
  • Mary Jane Ditunda Eksekusinya, Bagaimana Penundaan Hukuman Ini Menurut Islam? Mei 1, 2015
    Tanbihun.com– “Eksekusi Mary Jane ditunda” ujar Kapuspenkum Kejagung Tony Spontana saat dihubungi, Rabu (29/4/2015). Keputusan ini diambil setelah Presiden Filipina menelpon Presiden Jokowi, bahwa perekrut Mary Jane telah menyerahkan diri dan membuat pengakuan bahwa dialah yang mengirim Mary Jane untuk membawa Narkoba tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. B […]
  • Keistimewaan Senior Atas Yunior April 26, 2015
    “Qod Yuujadu fil Mafdhuul Maa Laa Yuujadu Fil Faadhil” (Kadang ditemukan keistimewaan bagi yunior yang tidak ada bagi senior) Tanbihun.com– Kaidah ini yg digunakan menjawab ulama ketika ditanya: mengapa Isa dan Maryam tidak tersentuh syetan dan tidak menangis ketika lahir??? Yang difirmankan al Quran u’iidzuhaa bika wa dzurriyyatahaa minasy syaithoonir rojii […]
%d blogger menyukai ini: