Mendiagnosa Hadits Palsu

4

Mei 27, 2009 oleh RIFA'I AHMAD


Oleh : Muhammad Abidun Zuhri

Definisi Hadits Maudhu’

doaImam Nawawi mengatakan,

هُوَ الْمُخْتَلَقُ الْمَصْنُوْعُ وَشَرُّ الضَّعِيْفِ، وَيَحْرُمُ رِوَايَتُهُ مَعَ الْعِلْمِ بِهِ فِيْ أَيِّ مَعْنًى كَانَ إِلاَّ مُبَيَّناً.

“Dia (hadits maudhu’ alias palsu) adalah hadits yang yang direkayasa, dibuat-buat, dan hadits dhaif yang paling buruk. Meriwayatkannya adalah haram ketika mengetahui kepalsuannya untuk keperluan apapun kecuali disertai dengan penjelasan.” [1]

Inti dari penjelasan Imam Nawawi di atas adalah hadits maudhu’ itu sebenarnya bukan hadits Nabi tetapi dipalsukan sebagai hadits Nabi seperti uang palsu. Pemalsu hadits mengatakan bahwa apa yang diriwayatkannya adalah hadits Nabi, padahal sebenarnya bukan hadits. Karena itu, haram meriwayatkannya kecuali dengan penjelasan kepalsuannya.

Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ.

“Barangsiapa berdusta atas diriku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Muslim)

Hadits di atas memberikan ancaman neraka kepada siapa saja yang berdusta atas nama Rasulullah saw. Dengan demikian jelas haram hukumnya meriwayatkan hadits maudhu’ kecuali untuk dijelaskan kepalsuannya sebagaimana yang telah dikatakan Imam Nawawi.

Faktor-Faktor Munculnya Hadits Maudhu’

Berikut ini faktor-faktor munculnya hadits maudhu’.

1. Ta’ashub (fanatik) politik.

Sesungguhnya perpecahan umat Islam akibat politik telah membuat mereka menjadi berbagai macam kelompok. Ada kelompok Ahli Sunnah, Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, Umawiyah, Abbasiah dan seterusnya. Dan seperti yang dikatakan, ta’ashub itu membutakan. Karena itu, sebagian dari pihak-pihak yang ta’ashub dalam masalah politik tersebut berani membuat hadits palsu demi mendukung kepentingannya.

Imam Malik pernah ditanya tentang kelompok Rafidhah (Syi’ah), lalu ia berkata, “Jangan berbicara dengan mereka dan jangan mengambil riwayat dari mereka karena sesungguhnya mereka adalah para pendusta.”[2]

2. Ta’ashub golongan.

Ta’ashub golongan juga menyebabkan munculnya hadits palsu. Seperti golongan Arab dan golongan selain Arab. Di bawah ini adalah contohnya.

يَكُوْنُ فِيْ أُمَّتِى رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ مُحَمَّدٌ بْنُ إِدْرِيْسَ أَضَرُّ عَلَى أُمَّتِى مِنْ إِبْلِيْسَ، وَيَكُوْنُ فِي أُمِّتِى رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أَبُوْ حَنِيْفَةَ هُوَ سِرَاجُ أُمَّتِى هُوَ سِرَاجُ أُمَّتِى.

“Akan ada dalam umatku seseorang yang dipanggil Muhammad bin Idris (Imam Syafi’i). Dia lebih berbahaya atas umatku daripada iblis. Dan akan ada dalam umatku seseorang yang dipanggil Abu Hanifah. Dia adalah lentera umatku, dia adalah lentera umatku.”

Pemalsu hadits ini adalah Makmun bin Ahmad al-Harawi yang hidup pada abad ketiga Hijriah.

Hal itu dibuat karena Imam Syafi’i berasal dari keturunan Arab Quraisy, sementara Abu Hanifah berasal dari keturunan Persi. Hadits tersebut juga dibalas dengan hadits maudhu’ yang mengunggulkan Syafi’i.[3]

3. Unsur Zindiq.

Yang dimaksud dengan zindiq atau zandaqah adalah para pengikut agama Majusi yang pura-pura menampakkan Islam. Mereka menampakkan Islam hanya untuk tujuan-tujuan dunia. Kemudian kata zindiq dimaksudkan untuk setiap orang yang tidak memiliki agama. Kata zindiq juga dimaksudkan untuk kaum hedonis atau kaum yang menjadikan tujuan mereka hanyalah memuaskan syahwat-syahwat.

Hammad bin Zaid mengatakan, “Orang-orang zindiq telah membuat hadits palsu sebanyak 14.000 hadits. Di antara mereka adalah Abdul Karim bin Abi al-Auja` yang berhasil dibunuh dan disalib pada zaman al-Mahdi. Ibnu Adi meriwayatkan bahwa ketika akan ditebas lehernya, Abdul Karim bin Abi al-Auja` mengaku, ‘Aku telah memalsukan hadits di antara kalian sebanyak empat ribu hadits yang di dalamnya aku mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram.'”[4] Laknat Allah kepadanya!

4. Tukang cerita.

Tukang cerita pada abad ketiga hijriah banyak bermunculan bak jamur di musim penghujan. Di antara mereka ada dari kelompok zindiq, kelompok pencari uang, dan kelompok yang menyamar sebagai ahli ilmu. Karena tujuan mereka adalah untuk mendapatkan dunia sebanyak-banyaknya, maka mereka memalsukan hadits-hadits yang dapat melancarkan tujuannya agar cerita mereka lebih menarik, terutama bagi kaum awam.

5. Perselisihan ilmu fiqih dan ilmu kalam.

Bagi orang yang telah mendalami ilmu fiqih, maka ia akan mengetahui perselisihan-perselisihan di dalamnya, misalnya tentang mengangkat tangan dalam shalat. Sebagian dari kelompok yang tidak setuju adanya mengangkat tangan dalam shalat membuat hadits palsu di bawah ini.

مَنْ رَفَعَ يَدَيْهِ فِي الصَّلاَةِ فَلاَ صَلاَةَ لَهُ.

“Barangsiapa yang mengangkat kedua tangannya dalam shalat, maka tidak ada shalat baginya.”

Orang yang memalsukan hadits tersebut Makmun bin bin Ahmad as-Silmi.[5]

6. Jahil masalah agama, tapi semangat untuk berbuat baik.

Hadits maudhu’ yang muncul dari kelompok ini sangat berbahaya karena kebanyakan orang berprasangka baik terhadap mereka. Hal ini menunjukkan bahwa semangat saja tidak cukup! Semangat harus dilandasi dengan ilmu yang kuat. Jika tidak, kehancuran agama dan dunia akan kita menimpa kita semua.

Ibnu Hibban meriwayatkan dalam adh-Dhu’afa` bahwa Ibnu Muhdi berkata, “Aku bertanya kepada Maisarah bin Abdi Rabbih, ‘Dari mana kamu mendapatkan hadits-hadits ini; barangsiapa yang membaca ini, maka ia akan mendapat ini?’ Ia menjawab, ‘Aku sengaja membuatnya sendiri agar orang-orang gemar melakukannya.'”[6]

Tanda-Tanda Hadits Maudhu’

Tanda-Tandanya dari Segi Sanad (Para Perawi Hadits)

1. Perawinya dikenal sebagai perawi pendusta.

2. Pengakuan dari pemalsu hadits, seperti pengakuan Maisarah bin Abdi Rabbih al-Farisi bahwa ia telah memalsukan hadits-hadits tentang keutamaan Al-Qur`an.

3. Fakta-fakta yang disamakan dengan pengakuan pemalsuan hadits, misalnya seorang perawi meriwayatkan dari seorang syekh, padahal ia tidak pernah bertemu dengannya atau ia lahir setelah syekh tersebut meninggal, atau ia tidak pernah masuk ke tempat tinggal syekh. Hal ini dapat diketahui dari sejarah-sejarah hidup mereka dalam kitab-kitab yang khusus membahasnya.

4. Dorongan pribadi perawi yang mencurigakan. Berikut ini contoh hadits maudhu’ yang menggelikan karena dibuat atas dorongan emosi pribadi. Hadits tersebut berbunyi,

مُعَلِّمُوْا صِبْيَانِكُمْ شِرَارُكُمْ، أَقَلُّهُمْ رَحْمَةً عَلَى الْيَتِيْمِ، وَأَغْلَظُهُمْ عَلَى الْمِسْكِيْنِ.

“Para pengajar anak-anak kalian yang paling buruk adalah yang paling sedikit rasa kasih sayangnya terhadap anak yatim dan paling keras terhadap orang miskin.”

Hadits ini dibuat oleh Sa’ad bin Zharif ketika anaknya datang sambil menangis dari tempat mengaji Al-Qur`an. Sa’ad bertanya, ‘Kenapa kamu menangis?” Anaknya menjawab, “Aku dipukul guruku.” Sa’ad berkata, “Aku akan membuat mereka hina hari ini!” Lalu ia menyebut hadits di atas yang ia buat sendiri.[7]

Tanda-Tandanya dari Segi Matan (Isi Hadits)

1. Rakakah (kerancuan) lafal dan makna. Hal ini dapat diketahui oleh orang yang telah menyelami seluk beluk hadits Rasulullah saw karena sabda Rasulullah saw tidak sama dengan sabda manusia biasa. Rabi’ bin Khaitsam berkata,

إِنَّ لِلْحَدِيْثِ ضَوْءًا كَضَوْءِ النَّهَارِ تَعْرِفُهُ وَظُلْمَةً كَظُلْمَةِ اللَّيْلِ تُنْكِرُهُ.

“Sesungguhnya hadits memiliki sinar laksana sinar siang yang kamu ketahui atau kegelapan laksana kegelapan malam yang kamu ingkari.”[8]

2. Isinya rusak karena bertentangan dengan hukum-hukum akal yang pasti, kaedah-kaedah akhlak yang umum, atau bertentangan dengan fakta yang dapat diindera manusia. Ibnul Jauzi mengatakan,

مَا أَحْسَنَ قَوْلَ الْقَائِلِ إِذَا رَأَيْتَ الْحَدِيْثَ يُبَايِنُ الْمَعْقُوْلَ أَوْ يُخَالِفُ الْمَنْقُوْلَ أَوْ يُنَاقِضُ الْأُصُوْلَ فَاعْلَمْ أَنَّهُ مَوْضُوْعٌ.

“Betapa indah perkataan seseorang, ‘Jika kamu melihat hadits bertentang dengan akal, menyelisihi manqul, atau bertolak belakang dengan ushul, maka ketahuilah bahwa itu adalah hadits maudhu’.”[9]

3. Bertentangan dengan Al-Qur`an, As-Sunnah, atau Ijma’ yang pasti. Sebagai contoh adalah hadits tentang umur dunia bahwa umurnya adalah tujuh ribu tahun. Hadits ini adalah hadits maudhu’ karena bertentangan dengan firman Allah,

قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْ.

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku.'” (al-A’raf: 187)

4. Bertentangan dengan fakta sejarah yang pasti kebenarannya. Sebagai contoh, apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan sanadnya dari Abu Wa`il bahwa ia berkata, “Ibnu Mas’ud mendatangi kami dalam peristiwa Shifin.” Mendengar cerita Abu Wa`il, Abu Nu’aim berkata, “Apakah dia dibangkitkan setelah mati?”

Imam Nawawi menjelaskan bahwa Ibnu Mas’ud meninggal pada tahun 32 hijriah menurut jumhur ulama dan hal ini berarti terjadi sebelum masa kekhilafahan Utsman selesai. Padahal peristiwa Shifin terjadi setelah tahun kedua masa kekhilafahan Imam Ali.[10]

4. Menyebutkan pahala yang terlalu besar untuk amal yang terlalu ringan atau ancaman yang terlalu besar untuk perkara yang sepele. Hadits-hadits semacam ini banyak ditemukan dalam kitab-kitab mau’izhah.

Demikian sekilas pembahasan hadits maudhu’ semoga bermanfaat. Jika ada kekeliruan, saya mohon dimaafkan dan dibetulkan. Muhammad Abidun Zuhri (26/1/09)


[1] Imam Nawawi, at-Taqrib, juz 1, hlm. 6.

[2] Syekh Ahmad Umar Hasyim, Qawa’id Ushulil Hadits, karya, hlm. 286.

[3] Syaukani, al-Fawa`id al-Majmu’ah, juz 1, hlm. 420.

[4] Imam Suyuthi, Tadrib ar-Rawi, hlm. 186.

[5] Imam Syaukani, al-Fawa`id al-Majmu’ah fî al-Hadits al-Maudhu’ah, juz 1, hlm. 29.

[6] Imam Suyuthi, Tadrib ar-Rawi, hlm. 184.

[7] Syekh Ahmad Umar Hasyim, Qawa’id Uhsulil Hadits, hlm. 299.

[8] Imam Suyuthi, Tadrib ar-Rawi, juz 2, hlm. 275.

[9] Ibid., hlm. 277.

[10] Lihat Syarh Shahih Muslim, juz 1, hlm. 53.

4 thoughts on “Mendiagnosa Hadits Palsu

  1. nuruz mengatakan:

    mister kami mengkopy entri anda gak apa apa kan?

  2. EM.Yazid mengatakan:

    Sekarang semua bisa dipalsukan. hadist palsu,duit palsu,kaki palsu,gigi palsu, senyum juga banyak yang palsu. semoga yang baca ini tidak berkomentar palsu. hehehehe….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mau tahu ajaran KH.Ahmad Rifa’i?

Kategori

Top Rated

Info Blog’s

Tamu Kita

Sudah Dikunjungi :

  • 404,891 netter

RSS TANBIHUN.COM

  • May Day 2015 Buruh Wacanakan Pembentukan Partai Mei 1, 2015
    Tanbihun.com– Pengusaha dan Buruh adalah dua sisi keping mata uang yang tak mungkin dipisahkan. Buruh butuh pengusaha dan pengusaha butuh buruh. Tapi dalam perjalanan waktu sering buruh tidak setara dan dianggap tidak setara dengan pengusaha. Sering pengusaha terlalu kuat menjadikan buruh hanya sekedar sapi perah. Untuk itulah pemerintah hadir agar pengusaha […]
  • Mary Jane Ditunda Eksekusinya, Bagaimana Penundaan Hukuman Ini Menurut Islam? Mei 1, 2015
    Tanbihun.com– “Eksekusi Mary Jane ditunda” ujar Kapuspenkum Kejagung Tony Spontana saat dihubungi, Rabu (29/4/2015). Keputusan ini diambil setelah Presiden Filipina menelpon Presiden Jokowi, bahwa perekrut Mary Jane telah menyerahkan diri dan membuat pengakuan bahwa dialah yang mengirim Mary Jane untuk membawa Narkoba tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. B […]
  • Keistimewaan Senior Atas Yunior April 26, 2015
    “Qod Yuujadu fil Mafdhuul Maa Laa Yuujadu Fil Faadhil” (Kadang ditemukan keistimewaan bagi yunior yang tidak ada bagi senior) Tanbihun.com– Kaidah ini yg digunakan menjawab ulama ketika ditanya: mengapa Isa dan Maryam tidak tersentuh syetan dan tidak menangis ketika lahir??? Yang difirmankan al Quran u’iidzuhaa bika wa dzurriyyatahaa minasy syaithoonir rojii […]
%d blogger menyukai ini: